Ads (728x90)

Assaalamualaikum_Waro'hmatullah_Wabarokatuh,
http://hermantea.files.wordpress.com/2010/04/islam2.jpg
Nabi bersabda: " Malaikat Jibril selalu memberitahuku 7 hal setiap kali menyampaikan firman Allah sehingga 7 hal tersebut kuanggap sangat penting atau hampir wajib."
  1. Berbuat baik pada tetangga
  2. Jangan sekali-kali menceraikan istri (rawatlah wanita secara baik)
  3. Jangan terlalu kerasi dengan budak atau buruh
  4. Jangan lupa bersiwak (membersihkan mulut)--- sholat 2 rakaat dengan bersiwak lebih besar pahalanay daripada shalat 70 rakaat tanpa bersiwak terlebih dulu---
  5. Jangan lupa shalat berjamaah--Nabi beranggapan bahwa shalat tidak sah jika tidak berjamaah---
  6. Selalu shalat malam
  7. Selalu berzikir kepada Allah---tidak bermanfaat suatu pembicaraan jika tidak dibarengi dengan dzikir (ingat) kepada Allah---
Nabi bersabda: " Allah menyukai seseorang orang karena 3 perkara."
  1. Orang yang punya kekuatan/kekuasaan yang dgunakan untuk taat kepada Allah. Misalnya  waktu kita masih sehat, memiliki waktu luang seabiknya dimanfaatkan untuk beribadah.
  2. Orang yang menangis dan menyesal setelah berbuat maksiat.
  3. Orang yang sabar ketika miskin ---orang miskin itu memiliki 3 perhiasan : tidak minta-minta (bekerja sendiri), syukur saat mendapat nikmat, sabar saat tertimpa musibah.--- * Nabi mengatakan: Bingkisan yang paling berharga bagi orang mukmin adalah fakir.--orang fakir yang sabar akan masuk surga dengan lebih mudah dan ketika di surga akan bersanding dengan Nabi Besar Muhammad saw.--
Nabi bersabda: " Nanti di hari kiamat Allah tidak akan melihat (kasihan) terhadap 7 orang (golongan). Mereka akan dimasukkan ke neraka."
  1. Orang yang suka sesama jenis---seperti kaum Nabi Luth---
  2. Orang yang menikah dengan tangannya sendiri---berbuat sendiri untuk mendapat kepuasan---
  3. Orang yang mengumpuli kuda
  4. Orang yang mengumpuli istrinya lewat jalan belakang
  5. Orang yang mengumpuli anaknya sendiri
  6. Orang yang mengumpuli istri orang lain
  7. Orang yang menyakiti tetangganya.
Nabi bersabda: " Aku melaknati terhadap 6 golongan."
  1. Orang yang menambah- nambah kitab Allah
  2. Orang yang tidak percaya terhadap kepastian Allah
  3. Raja / penguasa yang berbuat sewenag-wenang---yang salah dibuat benar, yang benar disalahkan atau yang mengangkat orang yanng dicela Allah (korupsi dan koluso)---
  4. Orang yang menghalalkan barang di tanah Haram (Mekah)
  5. Orang yang menghalalalkan yang diharamkan Allah
  6. Orang yang berpaling dari jalannya Nabi Muhammad.
Source :  http://members.fortunecity.com/
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Buku Renungan Islam : Air Mata Penjara Wanita

http://i289.photobucket.com/albums/ll202/ixan_11/tears1.gif
Siapa sangka, muslimah yang dulunya santun dan berselimut malu itu, tiba-tiba berubah ganas dan menjadi penghuni penjara wanita?

Penjara wanita adalah jeruji besi yang membuat semakin lemah makhluk yang sudah lemah. Penjara wanita adalah tembok-tembok jangkung yang mengepung ketidakberdayaan makhluk yang melahirkan’kehidupan’ manusia. Penjara wanita adalah nyanyian kesedihan dan ratapan duka. Penjara wanita adalah tempat banjirnya air mata.

Kisah-kisah pilu dari balik penjara wanita akan membuat siapa saja terperangah. Ah, mungkinkah wanita muslimah yang lembut, menyimpan pesona denga rasa malunya yang tinggi dan bunga kehidupan itu bisa terperosok dalam -maaf- kehidupan gaya setan? Bagaimana mungkin mereka –yang muslimah itu- lalu dengan ganasnya menjadi pembunuh, pecundang, pemabok, penjudi, pencuri, pecandu narkoba, berzina, seks bebas dan penyimpangan-penyimpangan lainnya yang mengantarkan mereka ke penjara?

Di mana kelembutan mereka? Di mana rasa malu mereka? Di mana iman mereka? Bagaimana setan-setan di sekelilingnya membujuk mereka, sehingga mereka takluk menjadi korban? Apa saja senjata manusia-manusia serigala yang menjerumuskan mereka ke lumpur dosa? Tidak adakah peran orang tua, keluarga, dan masyarakat sekitarnya untuk menyelamatkannya?

Kehidupan ini telah memberikan pelajaran yang sangat beragam, kompleks dan sangat berharga. Ternyata, mereka yang menjadi korban tidak saja dari keluarga berantakan, tetapi tak sedikit juga dari keluarga shalih dan terhormat. Bagaimana itu bisa terjadi? Ya, ternyata itu benar-benar bisa terjadi. Buktikan sendiri dengan membaca kisah-kisah nyatanya dalam buku ini. Kisah-kisah yang memilukan dari balik jeruji besi penjara wanita.

Dan, untuk mengobati keperihan hati yang teriris-iris akibat dari penjara wanita yang berlumuran dosa, guyurlah hati anda dengah kisah-kisah puncak ketaatan akibat kerinduan menggapai Surga. Kisah-kisah manusia yang mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Rabb-nya. Kisah-kisah yang menumbuhkan optimisme untuk selamat dari Neraka.

Beruntunglah anda, wahai muslimah yang masih terjaga kehormatannya, lalu belajar dari kisah-kisah buku ini. Bacalah! Jadikan ia sebagai pelajaran dan pegangan anda dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan tipu daya ini. Dan Jangan pernah ada keluarga anda mencicipi kehidupan di dalam penjara wanita. Na’udzubillah.

Source : http://islamebook.wordpress.com/
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

AL-QUR’AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

http://www.faithfreedom.frihost.net/w/images/4/4e/Al-Quran.jpg
Abu Umamah r.a. berkata : “Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur’an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur’an.”
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya.”
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, ” Kenalkah kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : “Siapakah kamu?”

Maka berkata Al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari.”
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur’an itu : “Adakah kamu Al-Qur’an?” Lalu Al-Qur’an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayanh dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : “Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?”

Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur’an.”
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Akibat Berbakti kepada Orang Tua

http://4.bp.blogspot.com/_lg9VtIm-shc/S85jc7M8qnI/AAAAAAAAAEw/bA-N1WGJbIg/s1600/1178.jpg
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagaimana kita maklumi bahwa setiap manusia mengharapkan dan mengidamkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat, memperoleh kemudahan dan keluasan pintu rizki, dan keberkahan di dalamnya. Untuk itu, kita harus mengenal rambu-rambu yang dapat mengantarkan kita padanya. Juga akibat-akibat durhaka pada mereka, agar kita terhindar dari hambatan dan penghalang untuk meraih harapan dan cita-cita.

Karena profesionalisme sangat tidak cukup untuk mengantarkan kita pada cita-cita. Bahkan limpahan rizki dan materi pasti juga tidak cukup untuk mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati di dunia dan akhirat. Bahkan justru sebaliknya, materi yang melempah sering menghantam kehidupan manusia. Sehingga ia terjatuh ke dalam kesengsaan batin, dan penderitaan yang abadi di akhirat. Untuk itu, kita sangatlah butuh pada bantuan dari Allah dan Rasul-Nya serta Ahlul baitnya untuk mengenal secara baik rambu-rambu tersebut.

Allah swt menegaskan dalam firman-Nya:

“Rendahkan dirimu terhadap mereka dengan penuh kasih saying, dan ucapkan: “Duhai Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.” (Al-Isra’: 24).

Rasulullah saw bersabda:
“Berbaktilah kamu pada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti padamu. Jagalah kesucian isteri orang lain, niscaya kesucian isterimu akan terjaga.” (Al-Wasail 20: 356)

Berbakti tidak cukup hanya saat mereka hidup

Rasulullah saw pernah ditanyai: “Siapakah yang paling besar haknya terhadap seseorang?” Beliau menjawab: “Kedua orang tuanya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya ada orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya ketika mereka hidup, jika ia tidak memohonkan ampunan untuk mereka setelah meninggal, maka ia dicatat sebagai anak yang durhaka kepada keduanya. Dan sungguh ada orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya ketika mereka hidup, tapi sesudah mereka meninggal ia memperbanyak istighfar untuk keduanya, maka ia dicatat sebagai anak yang berbakti.” (Mustadrak Al-Wasâil 2: 112)

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Sungguh ada seorang hamba yang berbakti kepada kedua orang tuanya ketika mereka hidup; tetapi setelah mereka meninggal, ia tidak menunaikan hutangnya, tidak memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mencatat ia sebagai anak yang durhaka. Sungguh ada seorang hamba yang durhaka kepada kedua orang tuanya; tetapi setelah mereka meninggal ia menunaikan hutangnya dan memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mencatat ia sebagai anak yang berbakti kepada mereka.”

Tingkat kewajiban berbakti pada orang tua

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang paling besar.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 178)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Ada tiga hal yang wajib dilaksanakan: Menunaikan amanat kepada orang yang baik atau yang zalim, memenuhi janji kepada orang yang baik atau yang zalim, dan berbakti kepada kedua orang tua yang baik atau yang zalim.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 179)

Akibat-Akibat berbakti kepada Orang Tua

Sebagaimana durhaka pada mereka berdampak ke dalam kehidupan, juga berbakti kepada mereka memiliki dampak dan akibat positif ke dalam kehidupan kita. Akibat-akibat itu antara lain:

Diridhai oleh Allah Azza wa Jalla

Dalam hadis Qudsi Allah swt berfirman: “Sesungguhnya yang pertama kali dicatat oleh Allah di Lawhil mahfuzh adalah kalimat: ‘Aku adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Aku, barangsiapa yang diridhai oleh kedua orang tuanya, maka Aku meri­dhainya; dan barangsiapa yang dimurkai oleh keduanya, maka Aku murka kepadanya.” (Jâmi’us Sa’adât, penghimpun kebahagiaan, 2: 263).

Disayangi oleh Allah swt

Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): “…Wahai Ali, Allah menyayangi kedua orang tua yang melahirkan anak karena keberbaktiannya kepada mereka. Wahai Ali, barangsiapa yang membuat sedih kedua orang tuanya, maka ia telah durhaka kepada mereka.” (Al-Faqîh 4: 371)

Ya Allah

Indahkan kepada mereka ucapanku
Haluskan kepada mereka tabiatku
Lembutkan kepada mereka hatiku
Jadikan aku orang yang sangat mencintai mereka
Ya Allah
Jangan biarkan daku lupa untuk menyebut nama mereka sesudah shalatku
pada saat-saat malamku, pada saat-saat siangku
Ya Allah
Jika ampunan-Mu lebih dahulu datang kepada mereka,
izinkan mereka untuk memberi pertolongan kepadaku
Jika ampunan-Mu lebih dahulu sampai kepadaku,
izinkan aku untuk memberi pertolongan kepada mereka
Sehingga dengan kasih sayang-Mu kami berkumpul di rumah-Mu yang mulia
di tempat ampunan dan kasih-Mu
Sungguh Engkau Pemilik karunia yang besar dan anugerah yang abadi
Engkaulah Yang maha Pengasih dari semua yang mengasihi
Kebahagiaan dan Sakinah dalam rumah tangga

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang percaya kepadaku tentang berbakti kepada kedua orang tua dan menjalin silaturrahmi, maka aku akan menjaminnya dalam hal penambahan harta, penambahan umur, dan sakinah dalam rumah tangganya.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 176)

Diridhai oleh Allah swt

Imam Ja’far Ash-Shaqiq (sa) berkata: “Takutlah kamu kepada Allah, dan janganlah durhaka kepada kedua orang tuamu, karena ridha mereka adalah ridha Allah dan murka mereka adalah murka Allah.” (Al-Kafi 2: 349)

Menambah umur dan Rizki

Imam Ja’far (sa) berkata: “Jika kamu ingin ditambah umurmu oleh Allah, maka bahagiakan kedua orang tuamu. Berbakti kepada mereka dapat menambah rizki.” (Al-Wasâil 18: 371).

Kemudahan saat sakaratul maut

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang ingin memperoleh kemudahan saat sakaratul maut, maka hendaknya ia menjalin silarurrahim dengan karabatnya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” (Bihârul Anwâr 74: 66)

Kemudahan perhitungan amal pada hari kiamat

Berikut ini adalah do’a Untuk kedua orang tua yang dipanjatkan kepada Tuhan Allah SWT untuk dibaca untuk meminta orang tua kita baik ayah / bapak dan ibu disayang oleh Allah SWT di akherat.

Doa dalam huruf latin berbahasa Arab :

ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO

Artinya dalam Bahasa Indonesia :
“ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Berbakti kepada orang tua dan menjalin silaturrahmi akan dimudahkan hisab amalnya…” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 177)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gusti Allah Tidak “nDeso”

http://static.republika.co.id/images/emha_ainun_nadjib_100712183334.jpg
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.
“Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu:
pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.” “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si pe-nanya.

“Ah, mosok Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau
menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya : kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan social pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.

Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kaum yang disegerakan Nikmatnya

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”.
(QS Al-ahqaaf:20)

Suatu ketika Umar bin Khathab berkunjung ke rumah Rasulullah saw. Saat itu sedang bertelekan di atas tikar anyaman. Ketika bangun, Umar melihat tikar anyaman itu telah membekas di pinggangnya. Maka menangislah Umar. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, engkau seperti ini keadaanmu sementara Kaisar dan Kisra berbaring di atas ranjang empuk. ”

Beliau menjawab, “Apakah ada sesuatu yang meragukanmu pada diriku hai Umar? -Ketahuilah- Mereka adalah kaum yang disegerakan kenikmatan mereka dalam kehidupan dunia.”

Pernah suatu ketika Umar bin Khathab disuguhi makanan yang lezat dan mengundang selera makan. Namun ia malah menangis. Para sahabat heran dibuatnya, maka mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu menangis?”

Umar menjawab, “Saya khawatir jangan-jangan kita ini masuk ke dalam golongan orang yang difirmankan Allah:

“Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya”.

Jadi apa sekarang batas yang membedakan antara orang mukmin di Indonesia yang termiskin dan orang Amerika terkaya di Florida? Perbedaannya hanyalah yang satu bisa makan daging dengan keratan besar dan yang lain bisa makan dengan keratan daging kecil. Yang ini bisa tidur dengan tenang dan nyenyak setelah makan nasi berlauk garam sedang yang lain senantiasa gelisah, tertekan dan goncang jiwanya. Setiap waktu membawa kotak berisi pil dan obat-obatan. 6 jam saja terlambat minum obat, maka dia akan merintih dan mengaduh…Jika kita menyelami segi kejiwaan mereka, maka akan nampak perbedaan yang mencolok antara keduanya. Yang satu hidupnya tenang tentram, sedangkan yang satunya selalu gelisah dan tertekan.

Jika orang-orang kafir yang diberi Allah harta setumpuk dan mereka habiskan hanya untuk enjoy dan bersenang-senang akan dihadapkan pada interograsi “,,,,,Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya…”, kemudian diikuti oleh sebuah keputusan Al-Hakim: :maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”, maka mereka harusnya bersyukur. Sebab sudah meresakan enaknya dunia.

Yang lebih mengenaskan, menyedihkan dan memilukan… Orang Islam termiskin, tidak shalat, tidak shoum ramadhan, tak pernah baca Qur’an, tinggal disamping masjid. Untuk mencari makan sehari saja susah.

http://3.bp.blogspot.com/__qyLNUosaH0/SwSB_tH-USI/AAAAAAAAAJQ/XKSwQvsKKHY/s1600/1_415475601l.jpg

Wallahu’alam bishshawab, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nama - Nama Surga dan Neraka

Tingkatan dan nama-nama syurga ialah :

1.    Firdaus

2.    Syurga ‘Adn

3.    Syurga Na’iim

4.    Syurga Na’wa

5.    Syurga Darussalaam

6.    Daarul Muaqaamah

7.    Al-Muqqamul Amin

8.    Syurga Khuldi

Sedangkan tingkatan dan nama-nama neraka adalah :

1.    Neraka Jahannam

2.    Neraka Jahiim

3.    Neraka Hawiyah

4.    Neraka Wail

5.    Neraka Sa’iir

6.    Neraka Ladhaa

7.    Neraka Saqar

8.    Neraka Hutomah
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Zubir Bin Al-Awwam Pembantu Yang Setia

Zubir bin Al-Awwam tergolong salah seorang pahlawan Islam yang gagah perkasa dan handal di zaman Rasulullah s.a.w. Keberaniannya dapat disamakan dengan Saiyidina Ali r.a. atau Saiyidina Hamzah bin Abdul Mutalib.

Kisahnya terjadi semasa peperangan Uhud iaitu seorang pahlawan musyrik telah keluar dari tempat pertahanannya ke tengah-tengah medan pertempuran untuk berlawan pedang satu sama satu dengan tentera Islam. Ia menyeru pahlawan-pahlawan Islam datang kepadanya. Tiga kali ia menyeru namun tentera Islam masih berdiam diri juga.

Demi untuk membela maruah tentera Islam, Zubir lantas melompat ke atas untanya, lalu pergi menghadapi musuh yang sudah lama menanti. Sesudah dekat dengan unta musuh, segeralah ia melompat ke atasnya. Maka terjadilah pergelutan yang dahsyat. Tidak lama kemudian, Zubir dapat menggulingkan musuhnya ke bawah. Lantaran itu mudahlah baginya menyembelih leher musuh itu.

Melihat kejadian itu baginda Rasulullah s.a.w. amat gembira sekali seraya berkata: “Setiap nabi mempunyai pembantunya sendiri dan Zubir adalah pembantuku.” Kemudian Rasulullah menyambung lagi, katanya: “Sekiranya Zubir tidak segera keluar mendapatkan musyrik itu, tentulah aku sendiri yang terpakasa keluar mendapatkannya. “Zubir Bin Al-Awwam dialah juga panglima Islam yang kemudiannya berjaya menakluki kota Babylon yang terkenal itu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

MENINGGALKAN KHIANAT, MENDAPAT RAHMAT

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar Al-Anshari berkata: “Dulu, aku pernah berada di Makkah semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menjaganya, suatu hari aku merasakan lapar yang sangat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menghilangkan laparku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera yang diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera pula.

Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Ketika aku buka, aku dapatkan didalamnya sebuah kalung permata yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Aku lalu keluar dari rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan, ‘Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang berisi permata’. Aku berkata pada diriku, ‘Aku sedang membutuhkan, aku ini sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan mengembalikan kantong sutera ini padanya’.

Maka aku berkata pada bapak tua itu, ‘Hai, kemarilah’. Lalu aku membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, dia menceritakan padaku ciri kantong sutera itu, ciri-ciri kaos kaki pengikatnya, ciri-ciri permata dan jumlahnya berikut benang yang mengikatnya. Maka aku mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya dan dia pun memberikan untukku lima ratus dinar, tetapi aku tidak mau mengambilnya. Aku katakan padanya, ‘Memang seharusnya aku mengembalikannya kepadamu tanpa mengambil upah untuk itu’. Ternyata dia bersikeras, ‘Kau harus mau menerimanya’, sambil memaksaku terus-menerus. Aku tetap pada pendirianku, tak mau menerima.

Akhirnya bapak tua itu pun pergi meninggalkanku. Adapun aku, beberapa waktu setelah kejadian itu aku keluar dari kota Makkah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut, perahu tumpangan itu pecah, orang-orang semua tenggelam dengan harta benda mereka. Tetapi aku selamat, dengan menumpang potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada di laut, tak tahu ke mana hendak pergi!

Akhirnya aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku duduk di salah satu masjid mereka sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya, tak seorang pun dari penduduk pulau tersebut kecuali dia datang kepadaku dan mengatakan, ‘Ajarkanlah Al-Qur’an kepadaku’. Aku penuhi permintaan mereka. Dari mereka aku mendapat harta yang banyak.

Di dalam masjid, aku menemukan beberapa lembar dari mushaf, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu mereka bertanya, ‘Kau bisa menulis?’, aku jawab, ‘Ya’. Mereka berkata, ‘Kalau begitu, ajarilah kami menulis’. Mereka pun datang dengan anak-anak juga dan para remaja mereka. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu juga aku mendapat banyak uang. Setelah itu mereka berkata, ‘Kami mempunyai seorang puteri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?’ Aku menolak. Tetapi mereka terus mendesak, ‘Tidak bisa, kau harus mau’. Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga. Ketika mereka membawa anak perempuan itu kehadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di lehernya. Tak ada yang aku lakukan saat itu kecuali hanya terus memperhatikan kalung permata itu.

Mereka berkata, ‘Sungguh, kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya’. Maka saya ceritakan kepada mereka kisah saya dengan kalung tersebut. Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk setempat. ‘Ada apa dengan kalian?’, kataku bertanya. Mereka menjawab, ‘Tahukah engkau, bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini’. Dia pernah mengatakan, ‘Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku’.

Dia juga berdoa, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat menikahkannya dengan puteriku’, dan sekarang sudah menjadi kenyataan’. Aku mulai mengarungi kehidupan bersamanya dan kami dikaruniai dua orang anak. Kemudian isteriku meninggal dan kalung permata menjadi harta pusaka untukku dan untuk kedua anakku. Tetapi kedua anakku itu meninggal juga, hingga kalung permata itu jatuh ke tanganku. Lalu aku menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dan harta yang kalian lihat ada padaku sekarang ini adalah sisa dari uang 100 ribu dinar itu.”
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Source : http://duniaislam.site50.net/

Poskan Komentar

Blogger