Ads (728x90)

http://2.bp.blogspot.com/_cpaZpfDvLj0/TFgTOHpnyaI/AAAAAAAAABA/3y9ORDOgZjo/s1600/ibu3.jpg

Anak Hasil Pemerkosaan - Membawa Berkah

Seorang sahabat menceritakan perjalanan kehidupannya yang sangat pahit kepadaku, terlebih dahulu aku mengucapkan banyak terimakasih buat ceritanya yang sudah menginspirasiku. semoga kisah ini bermanfaat untuk sahabat semua. Amin.

* aku takut... Keluargaku tergolong ekonomi lemah. Mamaku telah pergi ke luar kota untuk tinggal dengan kakak pertamaku. Dirumah aku tinggal dengan ayahku yang kerjaannya hanya mabuk dan tidur, memang ayah tidak pernah macam-macam padaku, sementara dua adik laki-lakiku jarang ada dirumah. Sebelum mama pergi keluar kota, rumah kecil yang kami tempatin di kontrakkan pada calon mahasiswa sebuah universitas, kulitnya hitam legam, dan baunya tidak enak, memang dia orang mampu, hanya saya takut dengan orang itu, yang kerjaannya tiap hari minum minuman keras. Aku sekarang tinggal dirumah bersama 4 orang laki-laki. Dengan ruangan yang sempit, tidurpun harus bersama dan hanya dibatasi oleh lemari pendek saja. Kadang saya merasa risih.
Sudah 1 bulan mama diluar kota, dan menghubungiku hanya beberapa kali, dapat dihitung dengan jari.
Satu waktu mamaku nelpon, mama bilang...
...."De, kalau kurang uang minta aja ama Bang Moko, segala keperluan ade dia yang nanggung, mama gakan kasih uang kiriman lagi. Kamu harus menuruti semua keinginan Bang Moko,jangan malu-maluin mama".. Tanpa menanyakan kabarku, adik-adikku, dan ayahku. Sedih dan bingung rasanya dan sampai sekarang aku ga mengerti maksud perkataan mamaku di telpon tadi.

Tak lama setelah mama nelpon, Bang Moko menghampiriku, dia merangkulku dengan erat, aku hanya bisa berteriak, Papaku malah tersenyum di atas kursi, tak ada satupun tetangga yang lewat seperti biasanya. Bang Moko dalam keadaan mabuk terus-terusan merangkulku dan mengejarku, pintu rumah dikunci olehnya, ayahku malah terus tersenyum, aku hanya bisa menangis dan menjerit. "Tuhan,,, Apa salahku?? ampuni aku Tuhan". Sampai beberapa waktu saya terjatuh, Bang Moko berhasil merenggut kegadisanku. Aku kaget mendengar penjelasan dari Bang Moko kenapa melakukan hal itu terhadapku. Dengan entengnya Bang Moko menjawab, "hei dek, mamamu sudah menjual kamu padaku, bahkan rumah ini sudah aku beli, sekarang mamamu gakan pernah bisa bertemu denganmu lagi. Mamamu sudah jadi penduduk sana". Aku sangat sedih mendengar semua itu. "Kenapa mama tinggal disana bang? kenapa mama tidak bilang padaku?" tanyaku sambil meneteskan air mata kesakitan. "Mamamu sudah tidak mampu membiayaimu, sementara ayahmu, kamu bisa lihat sendiri, ga ada pemasukan untuk dia, kerjapun ga punya, dan adik-adikmu sibuk sendiri dengan dunianya. Mamamu disana jadi PSK (Pegawai sex komersil), orang sana pada hitam,walaupun mamamu sudah berumur, tapi banyak yang tertarik, hahahah" jawabnya lantang kepadaku.

Semejak kejadian itu, aku menjadi pendiam, bahkan awal mula aku berkerudung, sekarang sudah tidak lagi, Bang Moko melarangku berkerudung. Ayahku meninggal karena kebanyakan meminum minuman keras, sementara kedua adikku pergi kerja keluar kota. Aku sekarang tinggal sendiri dirumah. Sementara Bang Moko, hanya hari libur saja ke rumah dan nginap dirumah. Aku harus melayani bang Moko seperti suamiku. Memang dari segi materi dia sangat perhatian. Segala kebutuhanku dipenuhinya. Namun tak jarang juga aku mendapatkan perlakuan kasar darinya. Bahkan sering kali kerumahku berdatangan permpuan-perempuan panggilan. aku tidak bisa melarangnya. aku tidak punya hak apapun. perempuan itu bergantian datang. Aku malu terhadap tetanggaku.
Dan tak lama tetanggaku mencium bahwa rumahku dijadikan tempat maksiat. sampai suatu hari, Bang Moko di usir dari kampung, status kemahasiswaannya dicabut oleh kampus, dan bang Mokopun pergi ke tempat asalnya. Sekarang aku di rumah sendiri. untuk hidup aku mencari pekerjaan jasa mencuci pakaian tetanggaku. Alhamdulillah aku masih bisa makan dari hasil kerjaku sendiri. Walaupun hati ini masih merasakan kesakitan yang sangat dalam. Takkan pernah ku lupakan kejadian ini, dan mudah-mudahan tidak ada lagi orang yang bernasib sepertiku. Kini aku telah memakai kembali jilbabku, tanpa ada yang melarang.

Sudah 3 Minggu aku bekerja dan hidup sendiri dirumah, tak ku sangka... aku harus menanggung satu beban lagi. Aku Hamil!!! Tuhan.... Cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepadaku? Apa yang harus kulakukan? Aku hanya mampu meminta pertolongan kepada-Mu. Kalau memang anak yang aku kandung ini bisa mengangkat nama baikku, sehatkan dan lindungi dia sampai dia bisa melihat dunia ini, tetapi kalau anak ini hanya memberikan beban untukku, semuanya aku serahkan kepadamu".

Sholat malam selalu aku lakukan, dan rutinitas pekerjaan jasa cuci terus aku jalani. Beberapa bulan kemuadian, salah satu tetanggaku yang pakaiannya selalu aku cucikan hampir tiap hari melihat perkembangan perutku yang terus membesar, Tetanggaku sangat berpendidikan. Aku suka memanggilnya Bu Ratna, dia seorang Dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah Bandung. dia mempunyai 1 orang anak namun sudah besar dan sedang melanjutkan sekolah di malaysia. Setau aku, Bu Ratna tidak bisa hamil lagi karena dia terserang kista dan rahimnya di angkat oleh dokter.

Dengan konsentrasi dan terus mencuci tiba-tiba Bu Ratna memanggilku, dan Dia hanya bilang "De, nanti setelah nyuci ke rumah sebentar ya? ada yang saya mau tanyakan?" sapanya ramah kepadaku. "Iya bu, saya mau jemur dulu pakaian ini, nanti saya temui ibu", jawabku dengan sedikit kebingnungan.

Setelah beres mencuci dan menjemur semua pakean, aku langsung menemui Bu Ratna. "ada apa Bu? ada yang harus saya kerjakan lagi?", Bu Ratna dengan ramah hanya bilang "Enggak De, maaf sebelumnya, ibu melihat perutmu semakin hari semakin membesar? kenapa? apa kamu hamil?" Tanyanya dengan langsung ke topik tetapi dengan gayanya yang sangat ramah, aku terdiam beberapa saat... dan karena aku yakin bahwa Bu Ratna orangnya sangat baik, akhirnya aku menceritakan semua kejadian yang menimpaku. dan akupun bilang bahwa aku hamil oleh Bang Moko yang waktu-waktu kebelakang di gerebek dan diusir masyarakat.

Singkat pembicaraan, Bu Ratna bilang "De, ibu hanya ingin menolong kamu, dengan sebisanya, kebetulan anak ibu satu-satunya sudah dewasa, dan ibu tidak bisa mempunyai anak lagi, meskipun cita-cita ibu pengen punya anak lebih dari 1 orang,tapi kesehatan ibu kurang mendukung, ibu harap kamu tidak tersinggung dengan ucapan ibu yang selalu langsung pada inti pembicaraan. Kalau tidak keberatan, Ibu ingin merawat anakmu nanti kalau sudah lahir. Makannya kamu jaga kandungan kamu, jangan samapai kenapa-kenapa dengan anakmu, soal tetangga biar Ibu dan Suami ibu yang hadapi.

~Air mataku tiba-tiba menetes, sedih dan haru yang aku rasakan saat itu, ucapan yang keluar dari kata-kata Ibu ratna membuatku langsung sujud syukur..."~

*Al'hamdulillah... sebelumnya makasih banyak ibu, saya benar-benar senang mendengarnya. Saya pasti akan menjaga kandungan saya ini.

*Singkat cerita, 9 Bulan 10 Hari akupun melahirkan seorang anak perempuan yang begitu manis, untunglah,,, mukanya tidak seperti Bang Moko. Bu Ranta sangat senang melihat anakku lahir. sedangkan pak Edi (Suami Bu Ratna) pun menyambut dengan ramah dan mereka telah mempersiapkan nama untuk anak saya. Dengan meminta ijin dan persetujuan aku, anakku diberinama "PUTRI AZ ZAHRA".

Al'hamdulillah anakku bisa merasakan kebahagiaan dengan lingkungan yang sangat menyayanginya. lebih mengharukan dan menyenangkan lagi, Bu ratna tidak pernah menutupi dan menyembunyikan siapa saya pada anakku. Sampai tumbuh dewasa, anakku tahu kalau aku ibu kandungnya. Namun anakku lebih bisa tahu diri, kecerdasan yang dimiliki anakku sangat membantu keluarga Bu Ratna dan Pak Edi sehari-hari. Bahkan Anak kandungnya sangat menyambut hangat dengan kehadiran anakku yang di besarkan dan dibiayai oleh orangtuanya.

Maha besar Allah dengan semua anugerahnya. Kini akupun tidak lagi sebagai tukang cuci keliling kampung. Pak Edi dan Bu ratna membukakan aku sebuah Grosir dan Warung nasi untuk usahaku. Grosirku sangat maju dan laris, alhamdulillah atas rejeki dari Allah swt yang diberikan melalui Keluarga Ibu Ratna dan Pak Edi saya mampu menghidupi diri sendiri dan anak saya. walaupun 100% anakku dibiayai oleh Pak Edi, namun aku masih berkewajiban menafkahi anakku. Usahaku sangat lancar, bahkan aku bisa membeli tanah dan kendaraan dari uang ku, tanpa melupakan jasa keluarga Pak Edi Tentunya.

Terimakasih Ya Allah... Kehidupanku kini berangsur lebih baik, doa setiap malamku telah Engkau kabulkan.

~KISAH HIDUP PENUH PERJUANGAN, inspirasi penulisan by ILIS SOLEHAH~
Ket: Nama tokoh sebenarnya dirahasiakan.

Sumber

Poskan Komentar

Blogger