Ads (728x90)

http://stat.kompasiana.com/files/2010/10/ibu1.jpg

Anakku….
Ibu menulis surat ini di tengah keletihan yang teramat sangat. Air mata bercucuran deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Engkau memang lelaki yang gagah lagi matang, ibu yakin engkau akan sanggup membaca surat ini. Bacalah! Dan bila tidak suka, engkau dapat merobek setelah membacanya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan ibu mengandungmu. Seluruh aktivitas ibu jalani dengan susah payah karena mengandungmu. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaan ibu. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat ibu melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatan ibu demi kesehatanmu. Kegelisahan ibu demi kebaikanmu. Harapan ibu hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kedewasaanmu semakin tampak, ibu pun berikhtiar atan iniuntuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, ibu merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak ibu telah terlupakan. Sudah sekian lama ibu tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk sekedar melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Haruskah ibumu memelas hanya untuk bertemu dirimu. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan! Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…
Walau bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku.

Perjalanan tahun demi tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..
Terserah kepadamu jika engkau anggap ibu rewel, cerewet dan bawel. Bila ingin merobek-robek surat ini. Lakukan saja karena itu pilihanmu. Ibu tidak akan mengungkit-ungkit jerih payah dan jasa yang telah dapat menghadirkanmu seperti keberadaanmu sekarang ini. Karena itu hanya akan mengurangi ketulusan ibu di hadapan Allah saja.

Anakku…
Ketahuilah bahwa ibu tidak akan menggunakan senjata pamungkas ibu untuk menghukummu. Cukup cerita Malin Kundang menjadi pelajaran yang tak tak terlupakan. Engkau tetap buah hatiku yang akan ibu bela sekuat tenaga.

Ya Allah luluhkanlah hati anakku, ringankanlah urusannya. Ya Allah jadikanlah aku hamba-Mu yang bersabar. Catatan ini didedikasikan bagi seluruh anak yang masih memiliki orangtua termasuk diriku...

Sumber

Posting Komentar

Blogger