Ads (728x90)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, nabi-nabi.” (QS. Al Baqarah : 177)

“Barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Hari Kemudian, maka orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa : 136)

Beriman kepada malaikat Allah SWT merupakan salah satu akidah yang terkandung di dalam rukun iman yang ke-2 di dalam ajaran Islam, yaitu mengetahui dan percaya akan keberadaan, kekuasaan, dan kebesaran Allah SWT di alam semesta. Keimanan tidak dapat sempurna tanpa diiringi keimanan kepada malaikat.

Malaikat merupakan bagian dari alam gaib, dimana Allah memberikan pujian kepada orang-orang yang mengimaninya, karena hal itu merupakan satu bentuk pembenaran terhadap berita yang datang dari Allah SWT, sekaligus pembenaran terhadap berita yang datang dari RasulNya.

Berbagai nash dari Al Qur`an dan As Sunah telah membentangkan masalah ini dan juga telah menjelaskan berbagai sisinya. Siapa saja yang mau menelaah nash-nash mengenai masalah ini, niscaya keimanannya kepada malaikat menjadi jelas, bukan sekedar pikiran yang mengambang.

Kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalam nash-nash inilah yang menjadikan keimanan kepada Allah SWT, Yang menguasai alam ini dan Yang telah menyiapkan para tentaraNya yang terdiri dari para malaikat untuk melakukan berbagai jenis pekerjaan yang dibebankan olehNya di alam semesta ini semakin mendalam.

“Hendaklah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruk-Nya.” (HR. Muslim)


Materi Penciptaan

Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nur), berdasarkan salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar r.a. dari ayahnya sendiri, disebutkan bahwa Rasullah SAW bersabda :

“Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah digambarkan pada kalian.” (HR. Muslim)

Rasullah SAW tidak menjelaskan jenis cahaya yang digunakan untuk menciptakan malaikat. Hal itu termasuk persoalan gaib, dan tidak ada hadits lain yang memberikan penjelasan yang lebih banyak lagi dari hadits ini.

Berkenaan dengan riwayat dari Ikramah bahwa ia mengatakan,“Malaikat itu diciptakan dari cahaya kemuliaan, sedangkan Iblis diciptakan dari api kemuliaan“, dan juga riwayat dari Abdullah bin Amr bahwa ia berkata,“Allah menciptakan malaikat dari cahaya (yang keluar dari) dua hasta dan dada“ maka keduanya tidak bisa dijadikan pegangan, bisa jadi mereka mengambil dari israiliat (cerita-cerita yang bersumber dari Bani Israil).

Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat, tetapi jika Allah berkehendak, maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat selalu menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para Nabi dan Rasul, seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim As dan Rasullah Muhammad SAW.


Waktu Penciptaan

Allah SWT tidak memberitahukan tentang kapan waktu penciptaan malaikat. Namun, dapat diketahui bahwa malaikat diciptakan lebih dahulu dari Nabi Adam As. Allah SWT mengumumkan kepada para malaikat bahwa Ia akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini. Allah SWT, berfirman :

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi.” (QS. Al Baqarah : 30)

Yang dimaksud dengan khafilah dalam hal ini, ialah Adam As. Dan Allah menyuruh mereka bersujud ketika Adam telah diciptakan. Allah SWT, berfirman :

“Maka apabila Aku telah menyempurnakannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (menghormat).” (QS. Al Hijr : 29)


Wujud Malaikat

Wujud malaikat mustahil dapat dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia tercipta dari unsur dasar tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk, dan tidak akan mampu melihat wujud dari para malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya, kecuali jika Allah berkehendak, maka malaikat dapat dilihat oleh manusia.

Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim As, dan Rasullah Muhammad SAW yang mampu melihat wujud asli malaikat Jibril sebanyak 2 kali, yaitu pada saat menerima wahyu dan Isra dan Mi'raj. Dalam Sunan Tarmidzi disebutkan hadits dengan isnad sahih bahwa Rasullah SAW, berkata :

“Aku melihatnya turun dari langit dan besarnya penciptaan Jibril menutupi ruang antara langit dan bumi.”

Imam Muslim dalam Sahihnya, demikian juga Tirmidzi dalam Sunannya, meriwayatkan hadits dari Jabir r.a, bahwa Rasullah SAW, bersabda :

“Diperlihatkanlah kepadaku pada Nabi, Ternyata Nabi Musa itu seperti orang pada umumnya, namun cukup garang. Aku juga melihat Isa putra Maryam, orang yang pernah aku lihat paling mirip dengannya adalah Urwah bin Mas'ud. Aku juga melihat Ibrahim, dan orang yang paling mirip dengannya adalah aku sendiri. Aku melihat Jibril, dan orang yang aku lihat paling mirip dengannya adalah Dihyah.”


Malaikat Memiliki Sayap

Malaikat memliiki sayap-sayap, sebagaimana yang telah tertuang di dalam firman Allah SWT, berikut :

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Faathir : 1).

Maksud dari firman tersebut, adalah bahwa Allah menjadikan mereka memiliki sayap, ada yang bersayap dua, tiga, empat, bahkan ada yang lebih banyak lagi, seperti hadits Rasullah SAW, Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dari Abdullah bin Mas`ud r.a, bahwa ia berkata:

“Rasullah SAW pernah melihat Jibril dalam bentuknya (yang sesungguhnya). Ia mempunyai 600 sayap, masing-masing sayap menutup cakrawala. Dari setiap sayapnya keluar berwarna-warni mutiara dan yaqut (batu mulia).”

Kemudian dalam beberapa hadits dikatakan, bahwa Jibril memiliki 600 sayap, Israfil memiliki 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril, dan yang terakhir dikatakan bahwa Hamalat al-'Arsy memiliki 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil.


Ketampanan Malaikat

Allah SWT menciptakan mereka dalam paras yang tampan lagi mulia. Allah SWT berfirman mengenai Jibril :

“...yang mengajarinya (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai mirah,lalu dia menjelma dengan sempurna.” (QS. An-Najm : 5-6)

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan dzu mirah (mempunyai mirah) adalah mempunyai wajah yang tampan. Sedangkan Qatadah mengatakan,“Berperawakan tinggi dan tampan.” Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa dzu mirah adalah mempunyai kekuatan (hebat). Kedua pendapat tersebut tidak penting, karena Jibril disamping kuat, dia juga tampan.

“...Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam : 16-17)


Penciptaan dan Kedudukan Malaikat

Para malaikat tidaklah sama, baik itu penciptaannya maupun kedudukannya. Ada yang bersayap dua, tiga, empat, dan Jibril sendiri memiliki 600 sayap. Di hadapan Allah, mereka pun memiliki kedudukan yang berbeda-beda.

“Tidak seorang pun diantara kami (malaikat), melainkan baginya kedudukan yang tertentu.” (QS. Ash-Shaaffat : 164)

Berkenaan dengan Jibril, Allah berfirman :

“Sesungguhnya (Al Qur'an) itu adalah firman Allah (yang dibawa) utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan di sisi yang mempunyai 'Arasy yang tinggi derajat.” (QS. At-Takwiir : 19-20)

Maksudnya, bahwa Jibril dalam hal ini memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah SWT.

Para malaikat yang paling utama adalah yang hadir dalam perang Badar. Dalam Sahih Bukhari disebutkan riwayat dari Rafa'ah bin Rafi', bahwa Jibril datang menemui Rasullah SAW, dan bertanya :

“Apa pandanganmu terhadap orang-orang yang turut serta dalam perang Badar?" Beliau menjawab,'Orang-orang terbaik dari kami'. Jibril kemudian berkata :'Demikian pula menurutku, para malaikat yang ikut hadir dalam perang Badar adalah para malaikat pilihan.'”


Malaikat Bukan Laki-Laki Bukan Pula Perempuan

Diantara kesesatan manusia adalah menimbang hal yang gaib dengan pertimbangan keduniaan mereka. Kaum musyrikin Arab beranggapan bahwa malaikat adalah wanita. Kemudian dicampur dengan khufarat yang lebih besar lagi, bahwa mereka menganggap malaikat ialah anak-anak perempuan Allah.

Yang lebih hebatnya lagi, mereka menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah, sementara mereka sendiri tidak suka kepada anak-anak perempuan.

“Maka tanyakanlah (hai Muhammad) kepada mereka,'Apakah (patut) bagi Tuhan engkau anak-anak perempuan sedang untuk mereka anak laki-laki. Atau apakah Kami menciptakan malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan?' Ketahuilah sesungguhnya mereka dari kedustaannya mengatakan,'Allah mempunyai anak.' Dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Apakah dia memilih anak-anak peempuan daripada anak laki-laki? Mengapa kamu? Bagaimana kamu memutuskan itu? Tidakkah kamu mendapatkan peringatan? Atau adakah bagimu bukti yang nyata?'” (QS. Ash-Shaaffat : 149-156)

Allah SWT, menjadikan perkataan mereka ini sebagai saksi, dimana Allah akan memintai pertanggungjawaban mereka. Di antara dosa besar adalah mengatakan Allah tanpa dasar pengetahuan.

“Dan mereka menjadikan mereka (menganggap) malaikat-malaikat itu perempuan, yang mereka (malaikat) adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu?Kesaksian mereka akan ditulis dan mereka akan ditanya.” (QS. Az Zukhruf : 19)


Malaikat Tidak Makan Dan Tidak Pula Minum

Malaikat tidak makan dan minum seperti manusia. Hal ini tertuang di dalam firman Allah yang menceritakan kedatangan malaikat dalam bentuk wujud manusia sebagai tamu Nabi Ibrahim As :

“Sudahkah datang kepadamu berita tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka berkata,'Salam'. Ibrahim berkata,'Salam'. Mereka kaum yang belum dikenal. Ibrahim pergi kepada keluarganya, kemudian dia datang (dengan hidangan) anak sapi gemuk, lalu dihidangkan kepada mereka (sambil) berkata,'Kenapa tidak kamu makan?' Maka Ibrahim merasa ketakutan dari mereka (karena tidak mau makan). Mereka berkata,'Janganlah takut'. Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (akan lahirnya) seorang anak laki-laki berilmu (Ishaq).” (QS. Adz-Dzaariyaat : 24-28)

“Maka tatkala Ibrahim melihat tangan mereka tidak menjamahnya, dia memandang aneh mereka dan merasa takut kepada mereka. Utusan itu berkata,'Jangan engkau takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.'” (QS. Huud : 70)


Malaikat Tidak Jenuh Dan Tidak Pula Letih

Para malaikat selalu beribadah kepada Allah, melakukan ketaatan kepadaNya, serta melaksanakan perintah-perintahNya tanpa lelah dan merasa bosan, tidak seperti manusia.

“Mereka bertasbih siang dan malam tanpa henti.” (QS. Al Anbiyaa' : 20)

“Maka mereka (malaikat) di sisi Tuhanmu bertasbih kepadaNya di waktu malam dan siang dan mereka tidaklah merasa jemu.” (QS. Fush shilat : 38)


Tempat Tinggal Malaikat

Tempat tinggal malaikat di langit. Mereka turun ke bumi atas perintah Allah untuk melaksanakan tugas yang diembankan kepada mereka.

“Semua langit hampir pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah), dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya.” (QS. Asy Syu'araa' : 5)

“Maka mereka (malaikat) di sisi Tuhanmu bertasbih kepadaNya di waktu malam dan siang dan mereka tidaklah merasa jemu.” (QS. Fush shilat : 38)

“Dan tiadalah dia (Jibril) turun, melainkan dengan perintah Tuhanmu.”
(QS. Maryam : 64)

Mereka lebih banyak turun dalam kesempatan-kesempatan khusus, seperti Laitulqadar.

“Laitulqadar itu lebih baik dari seribu bulan. Malaikat dan Ruh (Jibril) turun padanya dengan izin Tuhannya membawa segala perintah.” (QS. Al Qadr : 3-4)


Jumlah Malaikat

Jumlah malaikat sangat banyak, dan tidak ada yang mengetahui secara pasti kecuali Dzat yang telah menciptakan mereka.

“Dan tiada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia.” (QS. Al Muddatstsir : 31)

Dari hadits Rasullah, ada gambaran tentang jumlah malaikat, namun itu pun tidak jumlah seluruh malaikat yang ada.

“Setiap harinya dimasuki oleh 700.000 malaikat. Ketika sudah keluar, mereka tidak akan kembali lagi kesana. Itulah terakhir kali mereka masuk.” (HR. Bukhari Muslim)

Di dalam Sahih Muslim disebutkan ada sebuah hadits riwayat dari Abdullah, Rasullah bersabda :

“Di neraka Jahanam nanti, akan didatangkan 70.000 tali kekang, dan setiap satu tali kekang dibawa oleh 70.000 malaikat.”

Dengan demikian, jumlah malaikat yang akan mengurusi neraka Jahanam pada hari kiamat nanti adalah 4,9 milyar malaikat. Jika kamu ingin merenungkan jumlah malaikat yang begitu banyaknya, terdapat pada nash-nash yang menjelaskan malaikat-malakat yang mengawasi manusia.

Ada yang bertugas mengurus nuthfah (sperma), ada dua malaikat yang bertugas mencatat amal setiap manusia, ada malaikat yang menjaga manusia, dan ada pula malaikat yang memberi petunjuk dan bimbingan kepada manusia.


Sifat-Sifat Malaikat

Sifat-sifat malaikat yang diyakini oleh umat Islam, adalah sebagai berikut:
  1. Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti.
  2. Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.
  3. Selalu takut dan taat kepada Allah.
  4. Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya.
  5. Mempunyai sifat malu.
  6. Bisa terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung.
  7. Tidak makan dan minum.
  8. Mampu merubah wujudnya.
  9. Memiliki kekuatan dan kecepatan cahaya.

Demikian ulasan tentang para tentara Allah SWT ini, yaitu malaikat-malaikat yang memiliki tugas-tugas yang harus mereka emban pada semesta alam ini atas perintah Sang Maha Kuasa, Allah Adza Wajaala.

Semoga bermanfaat.

Wassalam.

Sumber : Umar Sulaiman Al-Asyqar (Buku yang berjudul : Malaikat "Mengakrabi Makhluk Gaib Yang Selalu Menyapa Kita"), Wikipedia©

*****

Azâzîl



“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah : 34)

“Azazil sang Iblis diciptakan dari kemurnian cinta. Dia tercipta dari api suci. Pengetahuannya adalah pengetahuan Allah. Dia ahli makrifat yang sangat luar biasa. Azazil adalah imam para malaikat, termasuk Gabriel (Jibril) pun menjadi makmumnya. Keimannya sangat tinggi. Dan dia juga sesosok makhluk monotheis sejati. Dia hanya melihat, bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah sendiri. Bahkan, dia juga mengingkari keberadaan dirinya sendiri, dengan pemahaman yang sangat tinggi, dan kualitas cinta yang murni. Hanya Allah lah yang ada baginya.”

“Logikamu tak mampu mengukur, apalagi menjelaskannya. Tahanlah diri, karena tak sanggup kau cerna. Jangan abaikan beban ini, keseimbanganmu cacat adanya. Apalagi sampai jadi alasan, bagi pengemis untuk mengeluh. Kata-kata segala ilmu pengetahuanmu, sungguhkah berguna pada saatnya nanti? Pengetahuan berjalan tertatih dengan kaki yang patah. Tapi kematian datang menyeruduk tak kenal ampun.”


Tentang Azazil

Azâzîl (Bahasa Arab : عزازل, Inggris : Azazel, Izazil) adalah nama asli dari Iblis. Ia merupakan nenek moyang para Jin. Menurut legenda, sebelum diciptakannya Adam, Azâzîl pernah menjadi Imam para malaikat atau Sayyid Al-Malaikat (Penghulu para Malaikat), Khazin Al-Jannah (Bendaharawan Surga), dan Abu Al-Jan (Bapak para Jin).


Penciptaan

Azâzîl terdiri atas al-‘azâz yang berarti 'hamba', dan al-îl yang berarti 'melata'. Kata al-‘azâz berasal dari al-‘izzah, yang berarti kebanggaan atau kesombongan. Dinamakan demikian, karena ia tercipta dari Api. Kata al-‘azâz (العزاز) terdiri dari empat huruf, yaitu huruf ‘ain, zây, alif, dan zây yang kedua. Dari tiap huruf menunjukkan sepak terjang pemilik nama tersebut, yaitu : Iblis.

Dari huruf ‘ain muncul kata ‘ulluw ‘kesombongan’, dari huruf zây muncul kata zuhw ‘sikap takabur’, dari huruf alif muncul kata ibâ’ ‘pembangkangan’, dan istikbâr ‘sifat angkuh’. Kesombongan, sikap takabur, pembangkangan, dan sifat angkuh merupakan sifat-sifat yang dimiliki Iblis. Inilah tafsir nama asli Iblis, yaitu "Azâzîl".


Sebelum Penciptaan Adam

Sebelum dilaknat oleh Allah SWT, Azâzîl memiliki wajah cemerlang lagi rupawan, mempunyai empat sayap, banyak ilmu, terbanyak dalam hal ibadah, serta menjadi kebanggan para malaikat. Dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan masih banyak lagi.


Setelah Penciptaan Adam

Setelah enggan untuk bersujud kepada Adam, Allah merubah mukanya yang sangat indah cemerlang, menjadi bentuk yang sangat buruk, seperti babi hutan, kepalanya seperti unta, dan dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, lalu Allah menyebutnya dengan Iblis.

Wajah yang ada di antara dada dan kepala, seperti wajah kera, kedua matanya terbelah di sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka lebar, seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan, serta janggut sebanyak tujuh helai.


Kisah Azazil

Kisah tentang kesombongan, takabur, berbangga diri, adalah sebuah kisah yang lebih tua dibanding penciptaan manusia. Ia hadir dan berawal ketika manusia masih dalam perencanaan penciptaan.

Karena hanya iblis dan para malaikat makhluk yang diciptakan sebelum manusia, kesombongan sejatinya berhulu dari iblis, yaitu Azazil. Makhluk yang dikenal penduduk surga karena doanya mudah dikabulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak tertimpa laknat oleh Allah.

Alkisah, suatu ketika saat berkeliling di surga, malaikat Israfil mendapati sebuah tulisan : "Seorang hamba Allah yang telah lama mengabdi akan mendapat laknat dengan sebab menolak perintah Allah."

Tulisan yang tertera di salah satu pintu surga itu, tak pelak membuat Israfil menangis. Ia takut, kalau itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar kabar perihal tulisan di pintu surga itu.

Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil, dan meminta di doakan agar tidak tertimpa laknat dari Allah. Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, dan atas permintaan mereka, Azazil pun lalu memanjatkan doa kepada Allah SWT :

"Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka."

Di luar doanya yang mustajab, Azazil dikenal juga sebagai Sayidul Malaikat alias penghulu para malaikat, dan Khazinul Jannah (bendaharawan surga). Semua lapisan langit dan para penghuninya, menjuluki Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan meski berbeda-beda :
  • Lapisan langit pertama (Ar-Rafii'ah), ia berjuluk Al-Abid, ahli ibadah yang mengabdi luar biasa kepada Allah
  • Lapisan langit kedua (Al-Maa'uun), julukan pada Azazil adalah Ar-Raki atau ahli ruku kepada Allah
  • Lapisan langit ketiga (Al-Maziinah), ia berjuluk As-Saajid atau ahli sujud kepada Allah
  • Lapisan langit keempat (Az-Zahirah), ia dijuluki Al-Khaasyi, karena selalu merendah dan takluk kepada Allah
  • Lapisan langit kelima (Al-Muniirah), menyebut Azazil sebagai Al-Qaanit, karena ketaatannya kepada Allah
  • Lapisan langit keenam (Al-Khaliishah), ia bergelar Al-Mujtahid, karena ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah
  • Lapisan langit ketujuh (Al-Ajiibah), ia dipanggil Az-Zahid, karena sederhana dalam menggunakan sarana hidup

Selama 120 ribu tahun, Azazil, si penghulu para malaikat menyandang semua gelar kehormatan dan kemuliaan, dan selama 700 ribu tahun ia menjadi penyembah Allah yang paling taat, hingga tibalah ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah.

Ketika itu, Allah, Dzat pemilik kemutlakan dan semua niat, mengutarakan maksud untuk menciptakan pemimpin di bumi :

“Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi.” (QS. Al Baqarah : 30)

Hampir semua malaikat serentak menjawab kehendak Allah itu :

“Ya Allah, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi, yang hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau.” (QS. Al Baqarah : 30)

Allah menjawab kekhawatiran para malaikat dan meyakinkan :

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah : 30)

Allah lalu menciptakan manusia pertama yang diberi nama Adam. Kepada para malaikat, Allah memperagakan kelebihan dan keistimewaan Adam, yang menyebabkan para malaikat mengakui kelebihan Adam atas mereka.

Lalu Allah menyuruh semua malaikat agar bersujud kepada Adam, sebagai wujud kepatuhan dan pengakuan atas kebesaran Allah. Seluruh malaikat pun bersujud atas perintah itu, kecuali Azazil.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah : 34)


Pembangkangan Dan Pengusiran Dari Surga

Sebagai penghulu para malaikat, dengan segala gelar dan sebutan kemuliaan, Azazil merasa tak pantas bersujud kepada makhluk lain termasuk Adam, kecuali hanya pada Allah SWT, karena merasa penciptaan, pencitraan, dan status dirinya yang lebih baik.

Allah melihat tingkah dan sikap Azazil, lalu bertanya sembari memberi gelar terbaru baginya, dengan sebutan Iblis :

“Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tanganKu? Apakah kamu menyombongkan diri (takabur), ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” (QS. Shaad : 75)

Mendengar pernyataan Allah yang murka terhadap pembangkangannya, bukan permintaan ampun yang keluar dari Azazil, namun sebaliknya, ia malah menantang Allah dan berkata :

“Ya Allah, aku (memang) lebih baik dibandingkan Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al A'raf : 12) (QS. Shaad : 75)

Mendengar jawaban Azazil yang sombong, Allah berfirman :

“Keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.” (QS. Shaad : 77)

Azazil alias Iblis, sejak saat diusir dan tidak lagi berhak menghuni surga. Kesombongan dirinya, yang merasa lebih baik, lebih mulia, dan sebagainya dibanding makhluk lain, telah menyebabkannya menjadi penentang sejati Allah SWT yang paling nyata. Padahal Allah sungguh tak menyukai orang-orang yang sombong dan takabur.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman : 18-19)

Bibit kesombongan dari Azazil sejatinya sudah bersemai sejak Israfil dan para malaikat mendatanginya agar mendoakan mereka kepada Allah. Waktu itu, ketika mendengar penjelasan Israfil, Azazil berkata :

“Ya Allah! HambaMu yang manakah yang berani menentang perintahMu, sungguh aku ikut mengutuknya.”

Azazil lupa, dirinya adalah juga hamba Allah, dan tak menyadari, bahwa kata "hamba" yang tertera pada tulisan di pintu surga, bisa menimpa kepada siapa saja, termasuk dirinya.

Lalu, setelah mendengar ketetapan Allah yang mengusirnya dari surga, Iblis semakin nekat seraya meminta kepada Allah agar diberi dispensasi, dan berkata :

“Ya Allah, beri tangguhlah aku sampai mereka ditangguhkan.” (QS. Shaad : 79)

Allah bermurah hati, dan Iblis mendapat apa yang dia minta, yaitu masa hidup panjang selama manusia masih hidup di permukaan bumi sebagai khalifah, dalam firmanNya :

“Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat).” (QS. Shaad : 80-81)

Dasar Iblis, Allah yang maha pemurah, masih juga ditawar. Ia lantas bersumpah akan menyesatkan Adam, anak cucunya, beserta seluruhnya, kecuali hamba-hamba yang mukhlis di antara mereka.

“Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shaad : 82-83)

Maka kata Allah :

“Yang benar adalah sumpahKu dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis dari golongan kamu dan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”
(QS. Shaad : 84-85)


Misi Tipu Daya Dilancarkan

Manusia pertama yang menjadi korban atas usaha penyesatan yang dilakukan oleh Iblis, tentu saja adalah Adam dan Hawa. Dengan tipu daya dan rayuan memabukkan, Nabi Adam AS dan Siti Hawa lupa pada perintah dan larangan Allah.

Keduanya baru sadar setelah murka Allah turun. Terlambat memang, nasi sudah menjadi bubur, karena hal itu Adam dan Hawa diusir dari surga dan ditempatkan di bumi.

Sukses Iblis tersebut menjadikan Adam dan Hawa sebagai korban pertama penyesatannya, dan tak bisa dilihat sebagai sebuah kebetulan. Adam dan Hawa, bagaimanapun adalah Bapak dan Ibu seluruh manusia di muka bumi, awal dari semua sperma dan indung telur.

Mereka berdua menjadi tolak ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan Iblis dalam menjalankan misi tipu daya dan menyesatkan manusia. Jika asal usul seluruh manusia saja berhasil disesatkannya, apalagi anak cucunya?

Singkat kata, kesesatan yang di dalamnya ada sombong, takabur, selalu merasa paling hebat, lupa bahwa masih ada Allah, juga sangat bisa menular kepada manusia sampai kelak di ujung zaman.


Tipu Daya Terhadap Anak Cucu Adam Dan Hawa

Di banyak riwayat, banyak kisah tentang kaum atau umat terdahulu yang takabur menentang dan memperolokkan hukum-hukum Allah, sehingga ditimpakan kepada mereka azab yang mengerikan. Kaum Aad, Tsamud, umat Nuh, kaum Luth, dan Bani Israil adalah sedikit contoh dari bangsa-bangsa yang takabur dan sombong, lalu mereka dinistakan oleh Allah, senista-nistanya.

Karena sifat takabur pula, sosok-sosok seperti Fir'aun si Raja Mesir kuno, Qarun, Hamaan, dan Abu Jahal juga mendapatkan azab yang sangat pedih di dunia dan pasti di akhirat nanti.

Pada zaman sekarang, manusia sombong yang selalu menentang Allah bukan semakin berkurang, sebaliknya malah bertambah dan menjadi-jadi. Ada yang sibuk mengumpulkan harta, dan lalu menonjolkan diri dengan kekayaannya. Yang lain rajin mencari ilmu, namun kemudian takabur dan merasa paling pintar.

Sebagian berbangga dengan asal usul keturunan; turunan ningrat, anak kiai, dan sebagainya. Ada juga yang merasa diri paling cantik, paling putih, paling mulus, paling-paling dibanding manusia lain.

Mereka yang beribadah, shalat siang malam, puasa, zakat, dan berhaji merasa paling saleh dan sebagainya. Ada yang meninggalkan perintah-perintah Tuhan hanya karena mempertahankan dan bangga dengan budaya warisan nenek moyang, dan seolah-olah segala sesuatu di luar budaya itu tak bernilai.

Tak sedikit juga yang mengesampingkan larangan-larangan Allah hanya karena mengejar era laju perkembangan zaman modern yang selalu dibangga-banggakan. Sebagai manusia, orang-orang semacam itu tak bermanfaat sama sekali. Mata jasmani mereka memang melihat, tapi mata hatinya sudah buta melihat kebenaran dan kebesaran Allah.

Allah telah dijadikan nomor dua, sementara yang nomor satu adalah diri dan makhluk lain di sekitar dirinya. Hati mereka menjadi gelap, tanpa nur iman sebagai pelita. Akal mereka tidak dapat membedakan antara yang hak (benar), dengan yang batil (salah).

“Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (takabur).” (QS. Al Muddatstsir : 23)

Iblis sebagai pelopor sifat takabur selalu mendoktrin kepada siapa saja sifat takabur, dan mewariskannya kepada jin dan manusia. Tujuannya jelas, untuk menyebarkan sumpah (Iblis) pada golongannya, sebagaimana golongan setan dari jenis jin.

Iblis dan pasukannya para setan yang terkutuk tentu menjadi bagian yang dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa jin, begitu pula setan dari golongan jenis manusia, sangat dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa manusia.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A'raaf : 179)

Demikianlah kisah Azazil yang merupakan makhluk yang dulunya sangat patuh dan taat kepada Allah, akhirnya menjadi Iblis yang sangat dikutuk dan dilaknat oleh Allah SWT, karena kesombongan, takabur, merasa hebat dibandingkan makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya. Semoga hal ini menjadi pelajaran yang berarti bagi kita semua sebagai hamba-hamba Allah yang beriman dan bertaqwa. Subhanallah Wabi Hamdih. Jazakumullah Khairan Katsiran.

Wassalam..

Sumber : Buku "Iblis Menggugat Tuhan - Shawni", Wikipedia©, imarou.multiply.com, hadud.cz.cc, arafah2004.blogdetik.com, clubbing.kapanlagi.com

*****

Kisah Nabi Adam AS



Setelah Allah SWT menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya, dan tumbuh–tumbuhan serta hewan-hewannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan, menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yang diciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Dzat Yang Maha Mulia dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya.

Maka tibalah kehendak Allah SWT untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi, memeliharanya, menikmati isinya, mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya, dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan olehNya.


Kekhawatiran Para Malaikat

Ketika para Malaikat diberitahukan oleh Allah SWT akan kehendakNya untuk menciptakan makhluk lain yang bernama manusia, mereka khawatir jikalau kehendak Allah dalam menciptakan makhluk yang lain itu, karena kelalaian mereka dalam beribadah dan menjalankan tugas, serta pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari.

Berkata Malaikat kepada Allah SWT : ”Wahai Tuhan kami.. Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah, dan mengagungkan namaMu tanpa henti-hentinya, sedangkan makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, akan bertengkar satu dengan lainnya, akan saling membunuh, berebut dalam menguasai kekayaan alam yang terlihat diatas dan yang terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas muka bumi yang Tuhan ciptakan.”

Allah berfirman guna menghilangkan kekhawatiran para Malaikat : “Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumiKu. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah SWT melarang hambaNya beribadah kepada sesama makhlukNya.”

Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah SWT dari segumpal tanah liat kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.


Iblis Membangkang

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat, yang segera bersujud di hadapan Adam AS sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya, serta yang terpendam di dalamnya.

Iblis merasa dirinya lebih mulia, lebih utama, dan lebih agung dari Adam AS, karena ia diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam dari tanah dan lumpur. Kebanggaannya dengan asal usulnya, menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain, walaupun ia telah diperintah oleh Allah SWTuntuk bersujud.

Allah SWT bertanya kepada Iblis : ”Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tanganKu?”

Iblis menjawab : ”Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia Ya Allah. Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur.”

Karena kesombongan, kecongkakan, dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan, maka Allah SWT menghukum Iblis dengan mengusirnya dari surga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat, dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga hari kiamat, dan ia dinyatakan sebagai penghuni kekal neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima hukuman Tuhan itu, dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal, hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat. Allah pun meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai pada hari kebangkitan.

Iblis tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam, sebagai sebab terusirnya dia dari surga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat, dan akan mendatangi anak-anak keturunan Adam dari segala sudut untuk membujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat, mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang, menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama, dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu : “Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka. Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hambaKu yang telah beriman kepadaKu dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu, walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah.”


Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda

Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para Malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmatNya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi. Maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta.

Kemudian diperagakanlah benda-benda itu oleh Allah SWT di depan para MalaikatNya seraya berkata : ”Coba sebutkan untukKu nama benda-benda itu, jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam.”

Para Malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka. Mereka mengakui ketidaksanggupannya dengan berkata : ”Maha Agung Engkau Ya Allah.. Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu, kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”

Lalu Adam AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para Malaikat. Setelah diberitahukan oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka : ”Bukankah Aku telah katakan padamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”


Adam Penghuni Surga

Adam diberi tempat oleh Allah di surga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya, menghilangkan rasa kesepiannya, dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunannya.

Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah SWT dari salah satu tulang rusuk Adam disebelah kiri diwaktu ia masih tidur, sehingga ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.

Ia ditanya oleh Malaikat : ”Wahai Adam.. Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?”

Berkatalah Adam : ”Seorang perempuan.. Sesuai dengan fitrah yang telah di ilhamkan oleh Allah kepadanya.”

”Siapa namanya?” tanya malaikat lagi.

”Hawa,” jawab Adam.

”Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?” tanya malaikat lagi.

Adam menjawab : ”Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku, dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.”

Allah berpesan kepada Adam : ”Tinggallah engkau bersama isterimu di surga, rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya, cicipilah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu. Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar, dahaga, ataupun letih selama kamu berada di dalamnya. Akan tetapi, Aku ingatkan, janganlah makan buah dari pohon ini, yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim. Ketahuilah bahwa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu, ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga, sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu nikmati saat ini.”


Iblis Beraksi

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh Allah dari Surga akibat pembangkangannya dan terdorong oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam, yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya, tersingkir dari singgasana kebesarannya. Iblis mulai menyusun strategi rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di surga yang tenteram, damai, dan bahagia.

Iblis menyatakan kepada mereka, bahwa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasehat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa, bahwa ia benar-benar jujur dalam nasehat dan petunjuk kepada mereka.

Ia membisikkan kepada mereka, bahwa larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal abadi. Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang itu, indah bentuk buahnya, dan lazat rasanya. Sehingga pada akhirnya, termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa, serta dilanggarlah larangan Tuhan.

Allah mencela perbuatan mereka dan berfirman : “Tidakkah Aku telah mencegah kamu untuk mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya? Dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu, bahwa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata.”

Adam dan Hawa yang mendengar firman Allah itu tersadar, bahwa mereka telah melanggar perintah Allah, dan mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar. Seraya menyesal berkatalah mereka : ”Wahai Tuhan kami.. Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintahMu karena terkena bujukan Iblis. Ampunilah dosa kami, karena niscaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami.”


Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi

Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa, serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang telah mereka lakukan. Hal itu melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis, sehingga mereka terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuan yang manis dan berancun itu.

Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah, dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu kembali oleh Iblis, dan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka Tuhan itu, menjadi pelajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat.

Harapan untuk tinggal terus di surga telah pudar, karena perbuatan dan pelanggaran terhadap perintah Allah. Hidup kembali hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di surga tidak akan terganggu oleh sesuatu karena ridha Allah serta rahmatnya, akan tetap berlimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.

Akan tetapi Allah telah menentukan dalam takdirNya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah SWT yang telah menentukan dalam takdirNya, bahwa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya, akan dikuasai kepada manusia, keturunan Adam. Dan memerintahkan Adam dan Hawa untuk turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambaNya yang bernama manusia.

Berfirmanlah Allah kepada mereka : ”Turunlah kamu ke bumi! Sebagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Kamu dapat tinggal tetap dan hidup disana sampai waktu yang telah ditentukan.”

Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berbeda dengan hidup di surga yang pernah mereka alami dan yang tidak akan terulang kembali. Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam, sifat, dan tabiatnya. Berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya.

Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana satu menjadi musuh yang lain, saling membunuh, menganiaya, menindas. Hingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus, penuh damai, kasih sayang di antara sesama manusia, jalan yang menuju kepada ridhaNya, serta kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.


Kisah Adam dalam Al-Qur'an

Al Qur'an menceritakan kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya : surat Al Baqarah ayat 30-38 dan surat Al A’raaf ayat 11-25.


Pelajaran Yang Terkandung Dari Kisah Nabi Adam AS

Bahwasannya, hikmah yang terkandung di dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan apa yang diciptakanNya, kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oleh otak manusia, bahkan oleh makhlukNya yang terdekat sekali pun, seperti yang telah dialami oleh para Malaikat tatkala diberitahu bahwa Allah akan menciptakan manusia – keturunan Adam untuk menjadi khalifahNya di muka bumi, sehingga mereka seakan-akan keberatan dan bertanya-tanya, mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk lain selain mereka yang sudah patuh, rajin beribadat, bertasbih, bertahmid, dan mengagungkan nama-Nya.

Bahwasannya, manusia meski telah dikaruniai kecerdasan dalam berfikir dan memiliki kekuatan fisik dan mental, ia akan tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya, seperti : sifat lalai, lupa, dan khilaf. Yang mana, hal ini telah terjadi pada diri Nabi Adam AS, yang meski ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikaruniai kedudukan yang istimewa di surga, ia tetap tidak dapat terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu.

Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya, tentang pohon terlarang, dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkaplah ia ke dalam tipu daya, dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

Bahwasannya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa, tidaklah sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan, asalkan ia sadar akan kesalahan dan perbuatannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali. Rahmat Allah dan maghfirahNya mencakup atas segala dosa yang diperbuat oleh hamba-hambaNya, kecuali syirik, bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesadaran bertaubat dan pengakuan kesalahan, akan diampuni oleh Allah SWT.

Sifat sombong dan congkak selalu membawa kerugian dan kebinasaan. Lihatlah Iblis yang turun dari singgasananya, di cabut kedudukannya sebagai penghulu para Malaikat, dan diusir oleh Allah dari surga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongan dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya. Sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam AS, dan menolak untuk bersujud menghormatinya, walaupun itu merupakan perintah dari Allah SWT.

Sumber : untukku.com

Posting Komentar

Blogger