Ads (728x90)

http://blog.its.ac.id/nurul10mhsisitsacid/files/2010/09/communication.jpg


http://1.bp.blogspot.com/_NNOmxc31YvQ/TPidoPbC6ZI/AAAAAAAAADw/6CMW8cEjK74/s1600/Communication.jpg


Pernahkah Anda menjumpai orang-orang yang terlihat begitu mudah bergaul dan berkomunikasi dengan banyak orang?

Padahal mereka baru masuk ke lingkungan/komunitas tersebut.

Banyak orang beranggapan orang-orang tersebut adalah kaum yang diberikan bakat dan anugerah oleh Alloh SWT sehingga mampu bergaul serta menjadi semacam magnet yang menarik setiap pribadi di sekelilingnya.

Sebenarnya hal tersebut dapat kita pelajari. Dengan menerapkan teknik komunikasi yang efektif, kita dapat melakukan hal yang sama dengan “kaum magnet pergaulan” tersebut.

Untuk dapat berkomunikasi dengan efektif maka setidaknya Anda harus memahami hal-hal berikut:
  • Kemampuan untuk berempati
  • Kemampuan untuk mengenali jenis penerimaan informasi
  • Kemampuan peniruan bahasa tubuh

Sederhana sekali kan?

Dengan minimal menguasai tiga hal tersebut, insya Alloh kita dapat diterima dengan baik oleh berbagai macam lingkungan karena kemampuan komunikasi yang baik serta efektif.

Kemampuan untuk Berempati

Secara sederhana, empati adalah sikap mental yang memposisikan diri kita sebagai rekan komunikasi kita.

Dengan berempati maka setidaknya kita dapat melihat dari perspektif lawan bicara sehingga dapat secara efektif lebih diterima olehnya.

Selalu gunakan bahasa-bahasa positif yang secara bahasa ditujukan untuk mewakili kepentingan lawan bicara daripada untuk kepentingan diri sendiri.

Misalkan Anda ingin mengajak karyawan kita bekerja lebih baik maka coba bandingkan antara kedua kalimat berikut:

Kalimat Pertama: “Ayolah, jangan malas begitu. Nanti saya beri bonus kalau kalian mau bekerja lebih tekun.”

Kalimat Kedua: “Teman-teman, saya minta tolong supaya Anda semua mau bersama-sama membangun kemajuan usaha ini. Insya Alloh kita akan bersama-sama menikmati hasilnya.”

Nah, Anda dapat memastikan sendiri kan kira-kira pilihan yang mana dari kedua kalimat di atas yang akan lebih diterima oleh orang lain.

Kemampuan untuk mengenali jenis penerimaan informasi

Secara umum manusia dapat dikelompokkan berdasarkan jenis penerimaannya atas informasi sebagai berikut:

Jenis Auditori

Jenis auditori adalah orang-orang yang lebih mendayagunakan kemampuan pendengarannya saat menerima informasi.

Ciri-ciri orang berjenis auditori antara lain dapat diidentifikasikan menurut pilihan katanya saat berkomunikasi yang didominasi kata-kata seperti:

“Saya dengar..”
“Saya cermati..”
“Menurut apa yang saya terima..”

Maka saat berkomunikasi dengan orang berjenis auditori, Anda harus menekankan pada pilihan kata-kata yang terkait dengan kemampuan respon pendengaran.

Misalkan gunakan kata-kata yang kira-kira sesuai dengan kata-kata tersebut dengan aksentuasi yang tepat.

Jenis Visual

Jenis visual adalah orang-orang yang lebih mendayagunakan kemampuan penglihatannya saat menerima informasi.

Ciri-ciri orang berjenis visual antara lain dapat diidentifikasikan menurut pilihan katanya saat berkomunikasi yang didominasi kata-kata seperti:

“Saya lihat..”
“Saya pandang..”
“Menurut peninjauan saya..”

Maka saat berkomunikasi dengan orang berjenis visual, Anda harus menekankan pada pilihan kata-kata yang terkait dengan kemampuan respon penglihatan.

Atau kalau bisa gunakan presentasi-presentasi visual seperti membuat sketsa atau membuat tabel pada saat berdiskusi.

Jenis Kinesthetic

Jenis kinesthetic adalah orang-orang yang lebih mendayagunakan kemampuan perasaannya saat menerima informasi.

Ciri-ciri orang berjenis kinesthetic antara lain dapat diidentifikasikan menurut pilihan katanya saat berkomunikasi yang didominasi kata-kata seperti:

“Saya rasa..”
“Sensasi yang saya terima..”
“Menurut hati saya..”

Maka saat berkomunikasi dengan orang berjenis kinesthetic, Anda harus menekankan pada pilihan kata-kata yang terkait dengan kemampuan respon perasaannya.

Misalkan dengan memberikan perhatian penuh dan tidak memotong saat dia bicara, menarik napas agak dalam saat jeda waktu tertentu, dsb.

Kemampuan peniruan bahasa tubuh

Mayoritas informasi sebenarnya disampaikan melalui bahasa tubuh manusia. Maka menangkap makna dari bahasa tubuh merupakan hal penting yang harus kita lakukan dalam mencapai komunikasi yang efektif.

Selain menangkap makna bahasa tubuh, kesesuaian bahasa tubuh akan menyebabkan si penerima informasi lebih responsif terhadap apa yang kita sampaikan.

Tirulah setiap perubahan bahasa tubuh rekan komunikasi kita sehingga dia merasa nyaman berkomunikasi dengan kita.

Namun dalam proses peniruan bahasa tubuh tersebut, lakukan dengan hati-hati dan sehalus mungkin hingga tidak terasa oleh rekan bicara kita bahwa bahasa tubuhnya sedang diduplikasi.

Selamat berkomunikasi dengan efektif dan menjadi komunikator ulung yang mudah diterima oleh berbagai lingkungan!

*****

Mendengar : Modal Berkomunikasi Kelas Tinggi

http://4.bp.blogspot.com/_lyzrQpNlz7c/TBIg4kSVZeI/AAAAAAAAAIE/wzQ6RJG-W4M/s1600/mendengar.jpg

Kemampuan berkomunikasi adalah hal mendasar yang menjadi kebutuhan interaksi seorang manusia.

Seringkali kita temui baik di dalam diri sendiri maupun orang lain perasaan rendah diri karena minimnya kemampuan berkomunikasi.

Padahal untuk menjadi seorang komunikator kelas atas hanya memerlukan satu modal saja.

MENDENGAR adalah modal untuk menjadi seorang komunikator kelas atas.

Kemampuan berbicara adalah bagian dari penyampaian aspirasi kita sedangkan kemampuan mendengar adalah bagian dari penyampaian aspirasi orang lain kepada kita.

Bukankah tujuan utama berkomunikasi adalah menyerap informasi dan merespon secara seimbang dan proporsional atas informasi tersebut?

Sehingga sangat wajar jika kemudian kemampuan menyerap informasi inilah yang seharusnya diasah dan ditingkatkan terus kemampuannya untuk menjadi seorang komunikator tingkat tinggi.

Komunikator tingkat tinggi bukanlah seorang debater yang tak terkalahkan atau mampu berorasi dengan sedemikian agitatif dan memukau pendengarnya.

Komunikator tingkat tinggi adalah seorang PENDENGAR yang mampu secara utuh menyerap, memahami dan merespon setiap informasi yang disampaikan kepadanya.

Seorang komunikator kelas atas adalah seorang pelaku empathy yang hebat.

Mereka mengembangkan perasaan yang mendalam terhadap kondisi eksternalnya sehingga mampu memahami hal-hal yang dirasakan hingga yang dialami oleh orang lain.

Sebagaimana kemampuan mental dan kejiwaan lainnya, empathy yang terus-menerus dilatih dan dikondisikan akan menjadi sebuah kemampuan bawah sadar sehingga hal tersebut akan dilakukan secara naluriah oleh pelakunya.

Nah, Anda sendiri tentu pernah merasakannya bukan?

Merasakan kenyamanan berkomunikasi dengan seorang komunikator kelas atas.

Komunikator yang mampu ber-empathy sehingga setiap hal yang disampaikan olehnya selalu selaras dengan kondisi Anda.

Jika Anda saja merasa nyaman dan bahagia berkomunikasi dengannya, bukankah Anda pun ingin juga menjadi seseorang yang selalu menyebarkan kebahagiaan bagi orang lain?

Sehingga apa yang disampaikan oleh nenek saya tercinta dulu ada benarnya.
“Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga, dua mata dan satu mulut. Berarti kita harus lebih banyak mendengar dan melihat daripada bicara.”
Sehingga marilah kita mengembangkan kemampuan mendengar daripada keahlian bicara.

*****

Berfikir Efektif VS Berfikir Efisien

Seringkali kita mendefinisikan EFEKTIF = EFISIEN. Padahal hal tersebut adalah sesuatu yang bertolak-belakang.

Di lingkungan global yang sangat kompleks dan penuh dengan tekanan ini maka tuntutan atas sikap mental EFEKTIF adalah lebih penting dibandingkan dengan EFISIEN.

Sikap mental EFEKTIF adalah kemampuan berfikir obyektif yang langsung mengarah pada sasarannya bukan pada prosesnya. Namun orang dengan kemampuan berfikir EFEKTIF akan mampu berfikir EFISIEN.

Bertolak belakang dengan sikap berfikir EFEKTIF, orang dengan pola mental EFISIEN cenderung melakukan sesuatu dengan pola/ritme/aturan/prosedur yang sudah tetap.

Gambaran berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan antara pola mental EFEKTIF dan EFISIEN.

Buya memanggil Budi dan Aris untuk membereskan tumpukan bata yang baru dicetak dari pabrik untuk dikirim ke pelanggan.

Budi dan Aris masing-masing sudah diberi petunjuk kapan dan dimana bata-bata tersebut harus ditumpuk dengan rapi.

Setelah memberikan tugas pada Budi dan Aris, Buya kemudian melakukan cek rutin ke pabrik bata. Berselang 10 menit kemudian Buya kembali ke Budi dan Aris untuk memeriksa hasil pekerjaan mereka.

Ternyata Budi sudah dari 5 menit yang lalu selesai mengerjakan tugasnya sedangkan Aris masih terlihat mengangkut lima tumpukan bata terakhir yang harus dirapihkan.

“Bud, kenapa kamu bisa bekerja lebih cepat?” tanya Buya setelah Budi dan Aris menyelesaikan pekerjaannya.

“Ya, saya sih gampang saja Buya. Setelah Buya menyuruh mengangkut dan membereskan bata tadi, saya langsung mencari dan mengambil gerobak untuk membawanya ke depan,” jelas Budi pada Buya.

“Ris, kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama?” tanya Buya kepada Aris.

Aris pun menjawab, “Ah, repot buya.. daripada saya pusing-pusing nyari gerobak, lebih baik saya angkut saja batanya bolak-balik. Belum tentu juga ada gerobak yang tidak terpakai.”

“Tapi kan kamu belum mencoba? Dan kenapa tidak bergantian dengan Budi menggunakan gerobaknya?” tanya Buya kepada Aris.

Dari cerita di atas dapat dilihat bahwa Budi sudah memiliki pola mental yang relatif EFEKTIF dibandingkan dengan Aris yang masih berpola mental EFISIEN.

Orang yang berpola mental EFEKTIF akan cenderung memiliki keunggulan-keunggulan berikut:
  1. Berfikir di luar kotak
  2. Secara alami, orang-orang dengan pola mental EFEKTIF akan mencari jalan tercepat untuk mencapai sasarannya. Dengan demikian mereka akan cenderung berfikir di luar kotak dengan mencari bahkan merekayasa alternatif-alternatif pemecahan atas masalah yang ada.
  3. Kreatif
  4. Terkait dengan kemampuannya berfikir di luar kotak maka orang-orang berpola mental EFEKTIF akan memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Salah satu faktor pendorongnya adalah naluri untuk selalu mencari secara jeli celah-celah yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai sasaran-sasarannya.
  5. Mampu mengelola konflik dengan baik
  6. Karena selalu memiliki kemampuan dalam mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah untuk mencapai obyektifnya, orang dengan pola mental EFEKTIF akan mampu mengelola konflik yang muncul dengan baik. Alternatif-alternatif solusi atas masalah yang ditemukan oleh mereka dapat menjadi faktor-faktor pendukung dalam pengelolaan konflik yang baik.
  7. Mampu bekerja sama dengan baik
  8. Sehubungan dengan kemampuannya mengelola konflik dengan baik maka orang-orang dengan pola mental EFEKTIF akan mampu bekerja sama dengan baik. Tim yang terdiri atas orang-orang berpola mental EFEKTIF akan dapat menciptakan sinergi dan memberikan energi positif yang luar biasa sehingga dapat menghasilkan ide/karya yang inovatif.
  9. Mampu bekerja di bawah tekanan dengan baik
  10. Terkait dengan hal-hal sebelumnya maka orang-orang dengan sikap mental EFEKTIF akan mampu bekerja di bawah tekanan dengan baik. Kemampuan ini muncul karena didorong oleh sikap optimis mereka bahwa akan selalu ada alternatif solusi atas masalah yang ada.
  11. Dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan dengan baik
  12. Dengan terbentuknya sikap-sikap alami yang telah disebutkan sebelumnya, orang-orang berpola mental EFEKTIF akan relatif sukses menyesuaikan diri terhadap perubahan. Mereka memiliki kesadaran yang tinggi akan kenyataan yang ada sehingga tidak pernah ragu untuk melakukan perubahan atas sasaran-sasaran yang ingin dicapai secara lebih realistis.
Maka dapat dilihat bahwa orang-orang dengan pola mental EFEKTIF akan memiliki kemampuan untuk bekerja lebih cerdas bukan lebih keras.
Jadi mari kita ganti slogan kerja kita dengan “BEKERJALAH LEBIH CERDAS.. BUKAN LEBIH GIAT.. :idea:

*****

Tips Metode Selalu Menjadi Kreatif

Selain harus berfikir efektif, kita harus memiliki kemampuan berfikir kreatif. Tuntutan ini didorong oleh perkembangan jaman yang menuntut diri kita untuk selalu mampu berfikir kreatif.

Sayangnya bagi kebanyakan orang, kemampuan berfikir kreatif ini sering dianggap sekedar hadiah alami pada diri kita.

Padahal berfikir kreatif dapat disusun metodenya. Metode berfikir seraya kreatif ini diharapkan dapat selalu membuat kita selalu menjadi seorang yang kreatif.

Mau tahu bagaimana menjadi seorang yang selalu kreatif di setiap saat? Ini nih tips menjadi seorang yang kreatif.
  1. Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.
  2. Berfikir menyeluruh dari setiap sudut.
  3. Munculkan sebanyak-banyaknya alternatif gagasan-gagasan.
  4. Lakukan kombinasi terbaik dari gagasan-gagasan yang ada.
  5. Lakukan pencarian kombinasi terbaik dari ide-ide yang ada.
  6. Pastikan Anda memilih kombinasi terbaik.
  7. Lakukan pengaruh/tindakan.
Nah, selamat selalu berpikir kreatif!

*****

Empati: “Kunci Pemasaran Efektif”

Beberapa hari yang lalu seorang credit card salesman dari sebuah bank swasta mendekati meja makan tempat saya sekeluarga sedang menikmati makan malam di sebuah restoran di kawasan CiWalk (Cihampelas Walk) Bandung.

Dengan gaya yang santun dia mempromosikan produk kartu kreditnya dengan persuasi yang sejujurnya sedikit dirasakan memaksa

Sekitar hampir 10 menit hingga hidangan yang kami pesan tiba, sang salesman masih juga belum berhasil meyakinkan kami untuk “membeli” produk yang ditawarkan.

Bandingkan dengan ilustrasi berikut ini.

Saat kami sedang makan di Nasi Uduk Merdeka, seorang pengamen datang dengan menenteng gitarnya.

Dengan sopan dia menyapa seluruh pengunjung dan mendatangi meja demi meja yang pengisinya sedang tidak bersantap.

Di setiap meja yang dia datangi terlontar pertanyaan, “Maaf, ada lagu favorit yang Bapak/Ibu ingin saya mainkan malam ini?”

Wah, sungguh kejutan yang menyenangkan buat saya dan isteri plus beberapa pengunjung yang lain.

Hampir setiap orang yang ditanya, termasuk saya menyebutkan sebuah judul lagu.

Hebatnya, sang pengamen mencatat dalam sebuah notes kecil setiap lagu pesanan dan mengambil posisi yang nyaman di sekitar warung tenda.

Tidak berapa lama mengalunlah lagu yang dipesan oleh para pengunjung dengan merdunya.

Tentu saja dengan senang hati para pengunjung yang dimainkan lagunya, bahkan yang tidak pun mengisi kardus di dekat sang pengamen dengan uang minimal sebesar seribu rupiah.

Nah, terlihat sebuah kontradiksi bukan?

Sang credit card salesman terlihat tidak memiliki empati terhadap prospeknya. Sedangkan sang pengamen setidaknya memperlihatkan empati kepada para prospeknya.

Sang salesman sangat sibuk menceritakan produknya yang belum tentu diharapkan apalagi diperlukan oleh prospeknya.

Ataupun jika memang diperlukan pun, sang prospek belum tentu senang untuk membelinya.

Sedangkan sang pengamen mendekati hati para prospeknya. Dia berusaha berempati kepada para prospeknya dengan menanyakan apa yang mereka inginkan.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk didengar dan diperhatikan keinginannya.

Di dalam situasi saat ini dimana orang sedemikian sibuk dengan urusannya masing-masing maka sebuah empati sekecil apapun akan sangat menyentuh hati si penerima respon.

Tentu saja dengan tanpa diminta sang penerima empati yang menjadi target prospek akan dengan senang hati mencurahkan isi hatinya.

Hal ini tentu saja akan memudahkan kita dalam posisi sebagai penjual untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan mendasar prospek.

Bukankah itu adalah hal yang terpenting saat kita menawarkan sesuatu untuk dijual?

Yaitu menjual produk yang tepat kepada orang dengan keinginan dan kebutuhan yang sesuai?

Empati adalah kata kunci membuka pintu hati prospek kita.

***** Sumber *****

Posting Komentar

Blogger