Ads (728x90)

http://www.jagatreview.com/wp-content/uploads/2010/10/apple-logo.jpg

MISTERI BUAH KHULDI

Kenikmatan yang melimpah ruah. Kesenangan yang membuat semua terperangah. Itulah kehidupan surgawi yang tak tertandingi oleh kemewahan duniawi. Adam, nenek moyang manusia, dan Hawa , ibunda segala bangsa di dunia, apa saja yang menjadi keinginan keduanya Allah kabulkan untuk dinikmati, kenikmatan tak terperikan, tak terjangkau oleh ingatan. Tetapi ada satu syarat : " Jangan kalian dekati Pohon Khuldi, apalagi mencoba mencicipi buahnya terlebih memakannya. Itu pantangannya.

" Dan Kami berfirman, " Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik yang mana saja kalian sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang Zalim" ( QS Al-Baqarah : 35 )

Syetan yang selau iri dan dengki dan selalu menyombongkan diri tak kekurangan tipu daya. Dengan segala daya dan upaya , setan berusaha menggoda Adam dan Hawa yang mendapatkan perlakuan istimewa dari Tuhannya. Rasa benci yang menggelora mendorongnya untuk membujuk rayu Adam dan Hawa. Harapannya : keduanya mau makan buah khuldi, lupa pada janji Ilahi Rabbi. Trik-trik di uji coba, intrik-intrik di terapkan, rayuan dan bujukan dilontarkan, janji palsu ditawarkan. Argumentasi di ajukan:

" Tuhan kamu tidak melarangmu berdua mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang - orang yang kekal di surga" , syetan bersumpah : " Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua" ( QS. Al-A'raf : 20-21 )

Ketika Allah SWT melarang kepada Adam dan Hawa untuk mendekati Pohon Khuldi, Allah SWT tidak menjelaskan secara rinci, hal ini selaras dengan larangan Allah kepada kita semua untuk mendekati zina. Allah Hanya mengatakan bahwa zina itu perbuatan keji dan buruk. Ketika Allah melarang Adam mendekati buah khuldi, Allah hanya mengatakan bahwa itu adalah kategori kedzaliman.

Di dalam kajian Ushul Fiqih, larangan itu mengandung hukum haram. Kita dilaarang mendekati perbuatan buruk dan keji, karena sebenarnya berawal dari mendekati, seseorang akan terpengaruh untuk menyukai, kemudian terlena, terpedaya dan pada akhirnya terjerumus kedalam larangan yang sebenarnya. Ketika Allah melarang zina, Allah juga melarang berkhalwat antara laki-laki dan perempuan dengan segala tambahan aktivitas lainnya seperti berciuman, berpegangan tangan dan lain-lainnya. Tak bisa di pungkiri, syetan sangat lihai memilih waktu, tempat dan situasi yang tepat untuk menggoda manusia.

Pada dasarnya , Allah tidak menetapkan segala sesuatu tanpa hikmah. Jika Allah melarang mendekati pohon khuldi maka ada bebrapa hikmah yang bisa kita ambil:

1. Menguji Ketundukan manusia

Tunduk berarti kita berserah diri kepadaNya. Kita laksanakan semua yang menjadi titah dan perintahNya. Kita gapai apa yang menjadi sebab RidhaNya. Kita jauhi apa yang dilarang dan mengundang murkaNya.

Ketundukan manusia itu ada dua :Ketundukan yang benilai Ta'abbudy ( Ketundukan sepenuhnya) dan ketundukan yang bersifat Ta'aqquly ( Ketundukan berdasarkan hasil analisis). Kedua macam ketundukan itu menunjukkan kepada kita bahwa Islam memberi peluang untuk meningkatkan dimensi intelektual, dimensi spiritual dan dimensi moral spiritual. Islam memberi ruang untuk meningkatkan daya pikir, dzikir dan tanggung jawab mengemban amanah memakmurkan dunia.

" Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila dipanggil oleh Allah dan RaasulNya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah mereka mengucapkan : ' Kami mendengar dan kamipatuh'. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." ( QS. An-Nuur : 51-52)

2. Membngun Kesdaran Bahwa Selain Allah Tidak Ada Yang Absolut

Tidak ada kenikmatan absolut tanpa batas dan tanpa larangan. Tidak Ada kebebasan tanpa batas. Tidak ada kekuasaan membabi buta tanpa batas selain kekuasaan Allah saja. Segala sesuatu punya batasan tertentu. Tidak boleh melampaui batas, bersikap berlebihan dan lupa daratan. Sebab ketika kebebasan di lakukan tanpa batas, maka yang terjadi adalah kesombongan, keangkuhan dan bahkan kedzaliman pada diri sendiri dan orang lain. Batasan - batasan itu dibuat dalam rangka mengendalikan nafsu serakah manusia. Dan hanya dengan di tenangkannya nafsu, maka yang timbul kemudian adalah kenikmatan ruhani, ketenangan jiwa dan kelezatan iman.

3. Membiasakan Menahan Diri

Dengan adanya larangan, kita dilatih untuk menahan diri dari pencapaian kenikmatan sesaat yang hanya terkait dengan fisik. Kenikmatan yang seharusnya dicapai adalah kenikmatan batin yang tidak bisa diukur dengan apapun, baik dengan materi, kekuasaan,jabatan maupun popularitas. Kenikamatan batin hanya bisa diraih dengan misalnya, membantu orang lain, melaksanakn tugas dengan baik, mencapai sesuatu yang di inginkan dan apalagi dengan melaksanakan hal - hal yang ada hubungannya dengan kegiatan sosial maupun keagamaan. Membantu kegiatan syi'ar Islam, pengentasan kemiskinan, baik miskin struktural, finansial, intelektual apalagi spiritual.

4. Menguji Ketahanan Mental Dalam Menghadapi Gidaan

Godaan dan Rayuan syetan datang setiap saat untuk menyesatkan kita. Ketahanan mental sangat diperlukan disini. Jika pertahanan kita Rapuh, maka kita akan mudah diseret dan diperdaya oleh kemauan syetan. Dan tidak ada cara memperkokohnya selain dengan memperbanyak ibadah, taqarrub kepad Allah SWT dan memperbanyak amal sholeh.

5. Jangan Tergantung Pada Akal semata

Syetan berhasil menggoda Adam dan Hawa dengan menggunakan pendekatan empiris logis. Ketika Adam dan Hawa bersandar semata kepada kekuatan akal, maka Keduanya sangat mudah digelincirkan oleh iblis. Oleh sebab itu jangan terlalu mendewa- dewakan akal dalam memahami segala sesuatu. Kehebatan akal tanpa dilandasi ketinggian spiritual akan menyebabkan kesesatan dan keterjerumusan. Banyak orang pinter tapi keblinger. Kekuatan akal kita gunakan untuk memajukan kehidupan dengan scien dan teknologi tetapi harus tetap mempedomani wahyu Allah, agar apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan Teknologi bisa melahirkan kesejahteraan dan menyelamatkan.

Sumber

Ibnu katsir mengatakan bahwa Allah swt telah membolehkan untuk Adam dan istrinya Hawa memakan seluruh buah-buahan di surga kecuali satu pohon saja.

ada saat itu setan dengki terhadap Adam dan Hawa sehingga ia berusaha untuk membuat makar, tipu daya dan rayuan agar terlepas seluruh kenikmatan dan pakaiannya yang baik. Setan mengatakan dengan penuh kebohongan dan kedustaan bahwa tidaklah Tuhan melarang kalian berdua memakan (buah) dari pohon ini kecuali agar kalian berdua tidak menjadi malaikat atau kekal di sini dan jika kalian berdua memakannya pasti kalian berdua akan mendapatkan hal demikian sebagaimana firman Allah swt :

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى


Artinya : “Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thahaa : 120) yaitu agar kalian berdua tidak menjadi malaikat, sebagaimana firman-Nya :

يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ أَن تَضِلُّواْ

Artinya : “Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat.” (QS. An Nisaa : 176) – (Tafsir Ibnu Katsir juz III hal 97)

Sebelumnya Ibnu katsir telah menyinggungnya saat menafsirkan surat Al Baqooh ayat 35, beliau mengatakan dari Mujahid “dan janganlah kamu dekati pohon ini” berkata ia adalah pohon tin, demikian pula dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Juraih.

Abu Ja’far ar razi dari ar Rubai bin Anas dari Abil Aliyah berkata bahwa siapa yang memakan buah dari pohon itu maka ia menjadi berhadats dan tidak sepatutnya di dalam surga terdapat orang yang berhadats. Abdur Razaq berkata bahwa Abdurrahman bin Muhrib berkata,”aku mendengar Wahab bin Munbih berkata,’Tatkala Allah menempatkan Adam dan Hawa di surga maka Dia melarangnya dari memakan pohon. Pohon itu memiliki dahan yang bercabang-cabang sebagiannya dengan sebagian lainnya. Pohon itu mempunyai buah yang dimakan oleh para malaikat untuk kekalan mereka dan dia adalah pohon yang dilarang oleh Allah swt terhadap Adam dan istrinya.

Berikut enam pendapat tentang tafsir pohon ini :

al Imam al Alamah Abu Ja’far bin Jarir—semoga Allah merahmatinya—bahwa yang benar dalam hal ini adalah perkataan sesungguhnya Allah swt telah melarang Adam dan istrinya dari memakan sebuah pohon dari pohon-pohon surga bukan semua pohonnya. Lalu keduanya memakan (buah) dari pohon itu. Dan kami tidak mengetahui pohon apa itu pastinya? Karena Allah swt tidak meletakkan bagi hamba-hamba-Nya suatu dalil tentang hal itu didalam Al Qur’an dan tidak pula didalam Sunnah yang shahih.

Ada yang mengatakan bahwa itu adalah pohon gandum. Ada yang mengatakan,”pohon anggur.” Ada yang mengatakan bahwa itu adalah pohon tin dan bisa jadi ia adalah salah satu dari apa yang disebutkan itu, itu adalah ilmu. Jika dia mengetahui maka akan bermanfaat bagi alam dengan pengetahuannya dan jika seorang tidak mengetahuinya maka alam tidaklah merugi dengan ketidaktahuannya. Demikianlah yang dipilih oleh Fakhruddin ar Razi didalam tafsirnya dan juga selainnya, ini adalah yang benar. (Tafsir Ibnu Katsir Juz I hal 235)

Adapun maksud dari firman-Nya “pohon khuldi” yaitu apabila dimakan darinya maka kan kekal. Dan bisa jadi pohon itu adalah seperti yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad,”Telah bercerita kepada kami Abdurrahman bin Mahdi,’telah bercerita kepada kami syu’bah dari Abi adh Dhahak bahwwa aku telah mendengar Abu Hurairoh berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,’Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang apabila seorang pengendara dibawahnya kerindangannya berjalan selama seratus tahun namun belum bisa mengitarinya yaitu pohon khuldi.” Ini juga diriwayatkan dari Ghandar dan Hajjaj dari Syu’bah. Abu daud ath Thayalisi didalam musnadnya meriwayatkan dari Syu’bah juga. Ghandar mengatakan,”Aku berkata kepada Syu’bah bahwa itu adalah pohon khuldi.” Dia mengatakan,”tidak ada didalamnya (kalimat) pohon itu.” (Al Bidayah wa an Nihayah juz I hal 86)

Dari beberapa riwayat dan penjelasan diatas tampak bahwa Allah swt hanya menjadikan pohon khuldi itu sebagai ujian bagi Adam dan Hawa agar tidk mendekati dan memakan buah darinya. Meski pada akhirnya mereka berdua terkena bujuk rayu dan tipu daya setan sehingga memakannya yang menjadikannya diturunkan dari surga, sebagaimana dikatakan Ibnu Jarir dan riwayat dari Wahab bin Munbih.

Wallahu A’lam

Sumber



Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk menganalisa kembali tentang ‘apakah benar bahwa Hawa sebagai penyebab terusirnnya Nabi Adam dari surga?”, dengan mengadakan perbandingan antara dua kitab suci yaitu al-Qur’an dan Perjanjian Lama (Taurat)
—————————————————
“Apakah Hawa Penyebab Terusirnya Nabi Adam dari Surga?” (Bag I)
(Study komparatif antara kitab suci Al-Qur’an dengan kitab suci Perjanjian Lama (Taurat))

Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk menganalisa kembali tentang ‘apakah benar bahwa Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga?”, dengan mengadakan perbandingan antara dua kitab suci yaitu al-Qur’an dan Perjanjian Lama (Taurat). Mungkin sebagian menganggap hal ini merupakan permasalahan yang telah usang. Namun bagi saya tidak ada salahnya kita kembali menganalisanya masalah tersebut. Benarkah Hawa sebagai penggoda yang menyebabkan Nabi Adam berbuat dosa (dosa di sini ialah melakukan yang sebaiknya ditinggalkan atau istilah lainnya ialah tarkul aula (meninggalkan yang utama untuk kemaslahatan), bukan dosa dalam artian berbuat haram karena di surga sana belum terdapat taklif untuk manusia) dan akhirnya terusir dari surga?
Namun sebelum memasuki pembahasan, terlebih dahulu terdapat satu pertanyaan yang harus kita jawab sebagai prolog untuk memasuki pembahasan pokok, sehingga permasalahan menjadi lebih transparan.
Pertanyaan:Apakah sejak semula Adam diciptakan untuk tinggal di muka bumi, atau untuk tinggal di surga?”
Jawab: Sejak semula Nabi Adam dan Hawa (manusia) telah diciptakan Tuhan untuk tinggal di bumi, bukan untuk tinggal di surga, sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah 30 yang berbunyi:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
Dalam ayat di atas ungkapan Fil Ardhy” yang artinya dalam bahasa Indonesia ialah “di muka bumi”. Dalam ayat tadi, Allah swt telah mengatakan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dan tidak mengatakan untuk tinggal di surga. Hal itu terjadi terjadi sebelum penciptaan Nabi Adam dan Hawa, yang akhirnya para malaikat protes kepada Allah swt tentang hal itu, namun Allah swt memberikan jawaban kepada mereka bahwa Dia lebih mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh para malaikat. Perihal ini dapat anda lihat dalam lanjutan ayat di atas.
Namun, sebelum turun ke muka bumi, Allah telah menempatkan Adam dan Hawa di surga untuk ditraining dan diuji sebelum memasuki kehidupan dunia yang tentunya lebih sulit dibanding kehidupan di surga tersebut. Ujian serta training tersebut sebagai bekal mereka dalam kehidupan di muka bumi. Di sisi lain, para ahli tafsir Qur’an mengatakan bahwa surga tempat Nabi Adam dan Hawa tinggal bukanlah surga setelah kiamat. Dengan alasan;
Pertama; Surga pasca Kiamat penghuninya akan kekal di dalamnya dan tidak akan keluar darinya, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Fath ayat 5, al-Hadid ayat 12, al-Mujadalah ayat 22, at-Taghabun ayat 9 dan lain sebagainya. Sementara surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan Hawa, mereka tidaklah kekal di dalamnya, buktinya akhirnya mereka keluar dari surga tersebut.
Kedua; Syetan tidak dapat masuk ke dalamnya. Sementara surga Nabi Adam dan Hawa dapat dimasuki oleh syetan yang telah menggoda mereka.
Ketiga; Surga pasca Kiamat adalah yang disediakan sebagai balasan amal manusia, artinya surga adalah balasan untuk orang-orang yang telah berbuat baik. Namun surga Nabi Adam dan Hawa tidak seperti itu, sebelum mereka beramal (taklif) telah dimasukan ke dalam surga.
Keempat; Surga di akherat kelak bersifat bebas mutlak untuk para penghuninya. Dalam arti, tidak ada larangan sedikitpun, berbeda dengan surga Adam-Hawa dimana mereka dilarang untuk memakan buah Khuldi yang ada di surga tersebut.
Setelah menyelesaikan prolog di atas, marilah kita memasuki pembahasan pokok yaitu menjawab sebuah pertanyaan: “Apakah benar Hawa penyebab turunnya Adam dari surga?” dengan mengadakan study komparatif antara Al-Qur’an dan Perjanjian Lama .
Apabila kita merujuk ke kitab suci Al-Qur’an maka jawabannya ialah negative. Terdapat dalam beberapa surat yang telah menjelaskan penciptaan Nabi Adam dan Hawa dalam al-Qur’an, seperti dalam surat al-Baqarah dari ayat 34-38, an-Nisa ayat 1, al-A’raf, 19-24 dan Thoha ayat 115-122. Namun yang telah menjelaskan secara terperinci ialah terdapat dalam surat al-A’raf. Dimana dalam surat tersebut telah dijelaskan pula sebab terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga. Dalam surat tersebut telah dijelaskan pula bahwa sumpah palsu syetan yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga. Allah swt telah menegur kedua-duanya (Nabi Adam dan Hawa) atas perlakuannya. Mari kita perhatikan kandungan ayat-ayat berikut ini, apakah dapat diambil kesimpulan bahwa Hawa sebagai penyebab turunnya Adam dari surga?:
“(dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(al-A’raf 19-22)
Berdasarkan ayat di atas, sumpah palsu syetan dengan mengatakan kepada Adama dan Hawa bahwa sebab pelarangan Tuhan untuk memakan buah tersebut ialah, karena Tuhan tidak ingin mereka menjadi malaikat dan kekal di dalamnya. Tidak cukup di situ, bahkan syetan pun telah bersumpah dengan mengatakan bahwa ia melakukan hal itu karena demi kebaikan mereka berdua. Silahkan kembali cermati secara seksama ayat di atas!
Lebih jelas lagi terdapat dalam surat Thoha ayat 117-121 yang berbunyi:
“Maka Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya Ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?“. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya Maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.
Keterangan; Yang dimaksud dengan durhaka di sini ialah melanggar larangan Allah Karena lupa dan dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. Dan yang dimaksud dengan sesat ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, Karena tingginya martabat Nabi Adam a.s. dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang Bagaimanapun kecilnya.
Mari kita bandingkan ayat di atas dengan yang terdapat dalam kitab perjanjian lama (Taurat) yang sudah terjadi banyak penyelewengan berkaitan dengan isinya, niscaya akan kita dapati bahwa jawabannya adalah positif, Hawa-lah penyebab terusirkannya Nabi Adam dari surga. Dalam kitab perjanjian lama dalam ‘bab penciptaan Adam dan Hawa’ telah dijelaskan bahwa Hawa sebagai penyebab diturunkannya Adam dari surga. Bahkan Tuhan menegur Adam kenapa mengikuti ucapan istrinya untuk memakan buah terlarang. Dengan kata lain, Hawa yang telah menyebabkan Nabi Adam melakukan kesalahan. Saya dapatkan hal ini dari terjemahan (edisi Arab dan juga edisi Persia) Perjanjian Lama. Namun saya yakin, edisi terjemahan kitab tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan terjemahan resmi. Dan insyaAllah pemahaman saya dari terjemahan tersebut tidak akan melenceng dari isinya. Kurang lebih isinya seperti ini:
Telah berkata ular kepada wanita (Hawa): “Kenapa telah memerintahkan Tuhan kalian untuk tidak memakan semua (buah) pepohonan surga? Lantas wanita (Hawa) tersebut menjawab pertanyaan ular; “Kami memakan buah-buahan pepohonan yang ada di surga. Namun dari buah pohon yang ada di tengah surga, Tuhan telah melarang kami untuk memakannya, dan kami tidak boleh mendekatiya karena kami akan mati. Ular berkata; “Kalian berdua tidak akan mati. Karena sesungguhnya Tuhan mengetahui bahwasanya setiap saat kalian memakan dari buah pohon itu, maka mata kalian akan terbuka dan kalian akan menjadi seperti Tuhan, akan mengetahui kebaikan dan kejahatan. Wanita (Hawa) melihat buah pohon tersebut baik untuk dimakan dan enak dipandang. Maka ia mengambil dari buah pohon tersebut dan memakannya, ia memberikan buah pohon tersebut kepada suaminya (Adam), dan iapun (Adam) memakannya. Maka terbukalah mata mereka, dan ketika mereka mengetahui dalam keadaan telanjang maka mereka menyambungkan dedaunan dari pohon tin dan mereka membuat sarung untuk mereka berdua. Di saat itu terdengarlah suara Tuhan yang sedang berjalan di surga ketika mendekati sepoi-sepoi angin setelah zuhur. Maka bersembunyilah Adam dan Hawa dari wajah Tuhan di antara pepohonan surga. Lantas Tuhan memanggil Adam seraya berkata: “Dimana engkau? Adam menjawab: “Aku mendengar suara-Mu di surga, maka aku takut karena aku dalam keadaan telanjang , karena aku malu (telanjang) maka aku sembunyi. Tuhan berkata kepadanya (Adam): “Siapa yang telah memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engaku telah memakan buah yang telah Aku larang untuk tidak memakan darinya? Adam menjawab: “Tuhanku, wanita (Hawa) ini yang telah Engkau jadikan teman untukku yang telah memberikan buah dari pohon itu kepadaku lalu aku memakannya. Kemudian Tuhan berkata kepada wanita (Hawa): “Kenapa engkau melakukan hal ini?. Wanita (Hawa) menjawab: “Ular itu yang telah menipuku, lalu aku memakannya.” Kemudian Tuhan berkata kepada Ular: “Karena engkau telah melakukan hal ini, maka akan terlaknatlah (terusir) engkau dari seluruh binatang dan semua binatang melata. Engkau akan berjalan pada dadamu dan engkau akan makan tanah selama hidupmu…kemudian Tuhanpun berkata kepada wanita (Hawa): “Akan kuperbanyak rasa sakitmu, dan kehamilanmu, engkau akan melahirkan anak dengan rasa sakit dan engkau akan berada di bawah kekuasaan laki-laki (di bawah perintah laki-laki), serta ia akan menguasaimu. Dan berkata Tuhan kepada Adam: “Karena engkau telah menuruti ucapan istrimu, dan engkau telah memakan buah dari pohon yang telah aku larang untuk memakan darinya, maka setelah itu bumi terlaknat dalam pekerjaanmu, dengan susah payah engkau akan makan darinya pada seluruh hari-hari kehidupanmu…lantas Tuhan mengeluarkan Adam dari surga… ” .
Silahkan bandingkan dengan surat Thaha dari kitab suci al-Qur’an di atas! Dimana syetan telah menggoda dan membisikan kepada Adam secara langsung (yang ditulis tebal). Namun dalam Perjanjian Lama, ular (syetan) pertama menggoda Hawa, kemudian Hawa membujuk Nabi Adam untuk memakan buah khuldi yang akhirnya Adam ditegur oleh Tuhan karena telah menuruti dan tergoda ucapan istrinya yang akhirnya menyebabkan ia terusir dari surga. Namun dalam al-Qur’an kedua-duanya telah ditegur oleh Allah swt, karena baik Nabi Adam maupun Hawa telah tergoda oleh sumpah palsu syetan. Lihat dalam al-Qur’an sejak semula syetan telah menggoda Adam dan Hawa dengan mengatakan ‘kalian berdua’ (karena dalam ayat tersebut menggunakan ‘dhamir mutsana’, yaitu kata ganti orang yang menunjukkan dua orang) ), bukan syetan hanya menggoda kepada Hawa, lalu Hawa menggoda Nabi Adam:
“Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua”. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. (al-A’raf 19-21)
Kesimpulan:
  • Dalam al-Qur’an Hawa bukanlah penyebab Nabi Adam as terusir dari surga, akan tetapi sejak semula Nabi Adam as pun sebagaimana Hawa telah tertipu oleh sumpah palsu syetan.
  • Sumpah palsu ialah; pertama, syetan telah bersumpah bahwa tidaklah Allah swt telah melarang Nabi Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi melainkan karena Dia tidak ingin mereka kekal seperti para malaikat. Kedua, syetan bersumpah bahwa ia melakukan hal ini hanyalah demi kebaikan mereka berdua.
  • Karena kedua-duanya telah bersalah maka Allah swt menegur kedua-duanya.
  • Namun dalam kitab Perjanjian Lama, pertama syetan (yang dalam kitab tesebut disebut ular) menipu Hawa, kemudian Hawa menggoda Nabi Adam untuk memakan buah khuldi.
  • Oleh karena itu, setelah Tuhan mengetahui pelanggaran atas pelarangannya, pertama Tuhan menegur Adam. Sewaktu Tuhan menegur Nabi Adam karena kesalahannya, Nabi Adam mengatakan bahwa perempuan yang Engkau ciptakan untuk jadi temanku (Hawa) yang telah membujukku untuk memakannya. Jadi, secara tidak langsung Hawa sebagai penyebab ia berbuat salah dan akhirnya terusir dari surga.
  • Setelah itu, kemudian Tuhan menegur Hawa, kenapa telah menggoda Adam untuk memakan buah terlarang?
  • Oleh karena itu, secara tidak langsung menurut kitab Perjanjian Lama Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga, sebagaimana yang selalu kita dengar selama ini.
Sumber:
  1. Al-Qur’an
  2. Perjanjian Lama (Taurat) edisi bahasa Arab.
  3. Tafsir Mizan karya Allamah Thabathabai’
  4. Tafsir Tasnim, karya Ayatullah jawadi Amuli
  5. Tafsir Nemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi
Catatan:
  • Kenapa Hawa dinamakan Hawa? Karena ia merupakan ibu para Makhluk hidup (maksudnya manusia). Karena Hawa berasal dari akar kata ‘Hayun’ yang artinya hidup.
  • Adam dinamakan Adam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq ia berasal dari akar kata: ‘Adim’ yang artinya bagian permukaan tanah.
Bagi yang dapat memahami bahasa Arab dapat langsung merujuk sendiri kepada 2 sumber (al-Quran dan Perjanjian lama edisi Arab) tersebut. Sebenarnya saya ingin sekali melihat kitab aslinya yang berbahasa Ibrani, namun percuma saja, karena saya sendiri tidak bisa memahami bahasa Ibrani. Saya pun telah berusaha men-search kitab Perjanjian Lama yang berbahasa Indonesia di internet, khususnya yang berkaitan dengan pembahasan ini, namun tidak mendapatkannya. Jalan terakhir saya menggunakan rujukan saya ke kitab Perjanjian Lama edisi bahasa Arab dan Persia.
[Euis Daryati, mahasiswi Pasca Sarjana jurusan Tafsir al-Qur’an] Sumber

Buah Khuldi, Simbol Pembelajaran Tuhan Terhadap Manusia

Benarkah pembelajaran manusia runtuh dan mengalami kegagalan pada saat manusia pertama Adam dan Hawa memakan buah khuldi disurga? Apakah memang Tuhan berkehendak menguji ketaqwaan Adam dan Hawa dengan menyiapkan buah Khuldi sebagai medianya? Kenapa mesti buah khuldi? kenapa Tuhan menciptakan buah kuldi? mengapa buah kuldi tersebut ditempatkan di surga bersama Adam dan Hawa? Alasannya apa yang menjadikan Adam dan Hawa tidak diperbolehkan memakan buah kuldi? kenapa Adam dan Hawa memakan buah kuldi yang menjadikannya diturunkan ke dunia? Tuhan kok tidak langsung saja menciptakan manusia di alam dunia? Sederet pertanyaan ini memang bisa menjadi bahan diskusi yang menarik, dan bisa jadi ulasan untuk menjawabnya akan jadi buku tersendiri, heheh.Untuk mampu menjawab pertanyaan diatas tentu harus diserahkan pada ahlinya yang berkompeten. Posting ini hanya sekedar mengajak anda sekalian memahami sedikit hal tentang buah khuldi, yaitu buah yang menjadi simbol dari perintah Tuhan yang berupa larangan bagi sepasang manusia pertama tersebut.

Sebagai manusia kita juga sangatlah terbatas untuk menjawab sederet pertanyaan diatas, karena ada pertanyaan yang mutlak menjadi wilayah Tuhan dan belum bisa diketahui latar belakangnya, karena belum ada rujukan sahih untuk dijadikan pegangan.

Larangan Tuhan pada Adam dan Hawa sewaktu masih hidup di surga ternyata dilanggar, hal ini dapat dimaknai bahwa manusia adalah tempatnya salah, dosa dan lupa. Meskipun jelas-jelas karena pengaruh bisikan setan berupa kebohongan, maka hasilnya adalah Adam dan Hawa akhirnya memakan buah kuldi juga.

“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setanpun berkata: “Tuhan Kamu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”(QS Al-A’raaf:20)

Buah kuldi akhhirnya menjadi simbol dari penentukan patuh dan tidaknya Adam dan Hawa pada Tuhannya. Dalam kehidupan kita sekarang, simbol ‘buah kuldi’ menjadi simbol dari serangkaian perihal keduniaan yang bisa menjadi ujian bagi manusia untuk tidak patuh pada perintah Tuhannya.

Keberadaan ‘buah kuldi’ di surga seolah menegaskan bahwa semua yang ada di surga adalah baik, Allah sengaja memberikan batasan dengan boleh dan tidak atas adanya buah kuldi sebagai berkehendak menciptakan sesuatu dan menetapkan sunnatullah. Adalah hak Allah untuk menentukan segala sesuatu dengan segala konsekuensinya, termasuk bagi manusia pertama Adam dan Hawa.

Seperti ditegaskan dalam firmannya “…dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”(QS Al-A’raaf:12). Karena manusia bukanlah malaikat yang sengaja diciptakan untuk bertakwa, patuh dan tidak diberi potensi untuk membangkang, melanggar atau melawan perintah Allah. Sedangkan manusia dipastika Oleh NYA untuk diberi potensi patuh, melawan, tunduk atau membangkang.

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS. Thahaa : 120). yaitu agar kalian berdua tidak menjadi malaikat, sebagaimana firman-Nya :

Salah seorang ahli tafsir Ibnu katsir telah menafsirkan surat Al Baqooh ayat 35, beliau mengatakan dari Mujahid “dan janganlah kamu dekati pohon ini” berkata ia adalah pohon tin, demikian pula dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Juraih. Sedangkan Abu Ja’far ar razi dari ar Rubai bin Anas dari Abil Aliyah berkata bahwa ”siapa yang memakan buah dari pohon itu maka ia menjadi berhadats dan tidak sepatutnya di dalam surga terdapat orang yang berhadats.

Abdur Razaq berkata bahwa Abdurrahman bin Muhrib berkata,”aku mendengar Wahab bin Munbih berkata,’Tatkala Allah menempatkan Adam dan Hawa di surga maka Dia melarangnya dari memakan pohon. Pohon itu memiliki dahan yang bercabang-cabang sebagiannya dengan sebagian lainnya. Pohon itu mempunyai buah yang dimakan oleh para malaikat untuk kekalan mereka dan dia adalah pohon yang dilarang oleh Allah swt terhadap Adam dan istrinya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon gandum. Ada yang mengatakan,”pohon anggur.” Ada pula yang mengatakan adalah pohon tin. Telah bercerita kepada kami syu’bah dari Abi adh Dhahak bahwa aku telah mendengar Abu Hurairoh berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,’Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang apabila seorang pengendara dibawahnya kerindangannya berjalan selama seratus tahun namun belum bisa mengitarinya yaitu pohon khuldi.

” Ini juga diriwayatkan dari Ghandar dan Hajjaj dari Syu’bah. Abu daud ath Thayalisi didalam musnadnya meriwayatkan dari Syu’bah juga. Ghandar mengatakan,”Aku berkata kepada Syu’bah bahwa itu adalah pohon khuldi.” Dia mengatakan,”tidak ada didalamnya (kalimat) pohon itu.” (Al Bidayah wa an Nihayah juz I hal 86)

Dari beberapa riwayat dan penjelasan diatas tampak bahwa Allah swt hanya menjadikan pohon khuldi itu sebagai ujian bagi Adam dan Hawa agar tidk mendekati dan memakan buah darinya. Meski pada akhirnya mereka berdua terkena bujuk rayu dan tipu daya setan sehingga memakannya yang menjadikannya diturunkan dari surga, sebagaimana dikatakan Ibnu Jarir dan riwayat dari Wahab bin Munbih.

Poskan Komentar

Blogger