Ads (728x90)

Pengurangan penggunaan tas plastik yang tidak ramah lingkungan itu tentu bukanlah hal yang mudah layaknya membalikkan telapak tangan. Kebiasaan masyarakat menggunakan tas plastik sebagai alat pengemas barang seolah sudah menjadi budaya yang sulit diubah.

Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.

Namun tidak ada masalah yang tak ada penyelesaiannya. Ungkapan itu menjadi benar ketika manusia mau berusaha. Dengan menggunakan teknologi khusus, tas plastik pun ternyata bisa terbuat dari singkong. Tidak hanya ramah lingkungan, pembuatan tas plastik yang diberi nama ecoplas ini ternyata juga mampu memberdayakan ekonomi masyarakat dan petani singkong.


Ecoplas merupakan tas plastik ramah lingkungan yang mengombinasikan polimer sintetik dengan tepung tapioka. Bahan-bahan tersebut mengaktifkan mikroorganisme tanah untuk membantu proses penguraian plastik. Dimotori oleh PT Tirta Marta yang menemukan terobosan baru pembuatan plastik berbahan dasar ramah lingkungan itu. Perusahaan ini telah mengembangkan pembuatan plastik berbahan singkong . Namun, baru pada 2008 ecoplas ramai di pasaran plastik di Indonesia.

Pemilihan singkong sebagai bahan dasar pembuatan ecoplas bukan tanpa alasan. Singkong mengandung zat tertentu yang dapat disatukan dan diolah menjadi resin (biji plastik). Resin itulah yang kemudian dibuat menjadi berbagai bentuk kantong plastik. Sebuah inovasi yang betul-betul ramah lingkungan. Point tambahan lagi, kantong jenis ini diproduksi dengan penghematan bahan bakar. BE+ atau Biodegradable Resin adalah resin baru yang dikembangkan oleh seorang Anak Negeri. Kantong ini mengandung 50% tepung singkong Indonesia beserta sumber-sumber alami lain yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui.

“Selain itu, singkong kan  tanaman yang paling mudah ditanam di Indonesia. Hanya dengan menancapkan batangnya saja, singkong bisa tumbuh. Indonesia ini kan banyak sekali lahan yang belum dimanfaatkan, dengan produksi ecoplas ini diharapkan dapat semakin memberdayakan masyarakat.

Singkong yang digunakan untuk bahan plastik,  tidak terbatas pada singkong jenis tertentu. Semua jenis singkong, baik yang dapat dimakan maupun tidak, bisa menjadi bahan baku pembuatan ecoplas. Tentu saja, singkong tersebut harus dibuat tepung terlebih dulu atau yang biasa disebut tepung tapioka.

Sebagai plastik yang ramah lingkungan, ecoplas dapat terurai dalam waktu yang relatif singkat. Berdasarkan hasil tes di Sucopindo, ecoplas bisa terurai dalam waktu rata-rata hanya 10 minggu.

Namun tentu waktu untuk terurai itu akan berbeda-beda di setiap tempat. Ini  berkaitan dengan organisme tanah. Kita tidak bisa mengontrol organisme tanah, jadi bisa saja terurai lebih cepat atau lebih lambat.

Karena berbahan dasar tepung tapioka, ketika dibuang ke tanah, ecoplas akan segera diserbu mikroorganisme tanah. Mikroorganisme itulah yang akan mengonsumsi ecoplas dan membuat plastik produksi 100 persen Indonesia itu terurai. Saat ini, ecoplas telah dipasarkan di berbagai  wilayah di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Tidak hanya di dalam negeri, produk karya anak bangsa ini juga telah dipasarkan ke beberapa negara tetangga, seperti Singapura dan Amerika.

Keunggulan lain dari ecoplas adalah teksturnya yang lebih lembut. Jika diraba dengan tangan, plastik ini tidak keras dan kaku layaknya plastik lain yang sering dijumpai di pasaran.

Memang dari segi harga ini sedikit lebih mahal. Tapi kalau melihat dampak lingkungannya, harga yang cuma berbeda sedikit itu tidak berarti apa-apa.

Ecoplas merupakan alternatif baru pengganti kantong plastik yang membutuhkan waktu ratusan  tahun untuk bisa terurai sempurna. Sulitnya penguraian plastik ini masih diperparah dengan banyaknya penggunaan plastik di dunia.

Beberapa fakta tentang tas plastik dari berbagai sumber pengamat lingkungan, antara lain, saat ini rata-rata setiap keluarga menggunakan 1.460 tas plastik setiap tahunnya, sebanyak 500 miliar tas plastik dijual setiap tahunnya di seluruh dunia, produksi tas plastik menghasilkan gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global, sembilan persen sampah di tempat pembuangan akhir adalah tas plastik, dan lebih dari sejuta burung dan 100.000 mamalia laut dan penyu laut mati setiap tahunnya akibat memakan atau terjerat plastik.

Itulah sebabnya, penggunaan plastik harus mulai dikurangi dari sekarang.

Sumber

Poskan Komentar

Blogger