Ads (728x90)

Pemicu Kegemukan Bukan Cuma Porsi Makan Tapi Juga Jadwalnya

Berbagai penelitian tentang hubungan antara pola makan dan kegemukan lebih banyak menyoroti porsi dan jumlah kalori. Padahal menurut penelitian terbaru, risiko kegemukan sangat dipengaruhi juga oleh teratur tidaknya jadwal makan.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Cell Metabolism ini menunjukkan bahwa makan pada waktu-waktu yang telah ditentukan lebih sedikit menyebabkan peningkatan berat badan dibanding saat makan dengan jadwal sembarangan. Bahakn meski porsinya sama, efeknya terhadap berat badan pasti berbeda.

"Tiap organ punya jam biologis. Jika kita makan dengan jadwal yang random atau acak, gen-gen tersebut belum menyala atau mati sepenuhnya," kata Prof Satchidananda Panda dari Salk Institute for Biological Studies yang memimpin penelitian tersebut, seperti dikutip dari Healthday, Minggu (20/5/2012).

Menurut Prof Panda, berbagai organ dalam sistem metabolisme seperti jantung, otot dan usus akan lebih aktif pada jam-jam tertentu. Jadwalnya bersifat sangat individual, sehingga tidak selalu sama pada masing-masing orang tergantung kebiasaannya.

Jadwal-jadwal dan jam biologis tersebut menentukan proses metabolisme, termasuk penguraian kolesterol hingga pemecahan glukosa. Jadwal makan yang random membuat organ-organ itu bekerja pada jadwal yang random pula, sehingga proses metabolisme tidak optimal.

Dampak yang bisa diamati adalah peningkatan berat badan, yang terjadi ketika seseorang makan pada jam-jam yang tidak teratur. Meski porsi dan jenis makannya sama, berat badan cenderung akan lebih stabil jika jadwal makannya setiap hari tidak berubah-ubah.

Diakui oleh Prof Panda, penelitian kali ini baru dilakukan pada tikus sehingga ada kemungkinan hasilnya agak berbeda ketika diterapkan pada manusia. Namun berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa, gangguan pada sistem metabolisme memang sangat mempengaruhi risiko kegemukan.
-----

Ayo, Makan Tepat Waktu, Biar Nggak Gampang Gendut!

Selama ini orang mungkin berpikir bahwa penambahan berat badan itu disebabkan oleh banyaknya kalori yang dimakan. Namun menurut sebuah penelitian sebenarnya kondisi itu juga disebabkan oleh jadwal makan yang aneh atau tidak teratur.

Temuan ini yang dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism tersebut menunjukkan bahwa membatasi waktu makan mungkin menjadi salah satu cara yang belum pernah diperhitungkan untuk membantu orang-orang menjauhi penambahan berat badan.

"Setiap organ tubuh kita memiliki jam," kata peneliti Satchidananda Panda dari Salk Institute for Biological Studies di La Jolla, Calif seperti dilansir dari MSNBC, Jumat (18/5/2012).

"Hal itu berarti ada waktu-waktu tertentu dimana hati, usus, otot dan organ lainnya bekerja pada puncak efisiensinya dan di waktu lain saat organ-organ tersebut beristirahat," lanjut Panda.

Siklus-siklus metabolik ini sangat penting untuk menangani hal-hal seperti gangguan kolesterol. Siklus-siklus ini pun harus diaktifkan ketika kita makan dan dimatikan ketika kita tidak makan.

"Oleh karena itu, ketika tikus atau manusia sering makan sepanjang pagi dan malam, hal ini dapat mempengaruhi bahkan mengganggu siklus metabolik normal tersebut, tambahnya," katanya.

Dalam penelitian yang dilakukan, sekelompok tikus diberi makanan yang mengandung lemak tinggi dan diizinkan untuk makan kapanpun sesuai keinginannya sehingga tak mengherankan jika kemudian berat badan tikus-tikus tersebut bertambah.

Sebaliknya, sekelompok tikus lain yang pola makannya dibatasi hanya 8 jam perhari terlindung dari obesitas, padahal kedua kelompok tikus tersebut diberi makan dengan jumlah kalori yang sama.

Hasilnya, setelah 18 minggu, kelompok tikus yang makanannya dibatasi terlindung dari efek samping pola makan tinggi lemak dan metabolismenya lebih baik dibandingkan kelompok tikus yang tidak dibatasi.

Kelompok tikus tersebut pun memiliki berat badan 28 persen lebih rendah dan presentase kerusakan hatinya lebih kecil daripada kelompok tikus yang tidak dibatasi.

"Namun studi lebih lanjut masih dibutuhkan untuk menunjukkan hal yang sama pada manusia," ujar peneliti.

Studi-studi itu pun seharusnya tak sekedar mempelajari apa yang dimakan orang-orang tetapi juga mengumpulkan berbagai informasi tentang waktu atau jadwal makan yang ideal, ujar Panda.

"Ada alasan untuk berpikir bahwa pola makan kita telah berubah dalam beberapa tahun terakhir karena banyak orang yang punya akses besar terhadap makanan dan begadang hingga larut malam, bahkan hanya untuk menonton TV dan ketika orang terjaga, mereka pun cenderung ngemil," tandasnya.
-----

Kalau Kegemukan Jadi Susah Mau Donor Organ

Jika Anda mempunyai niat tulus mendonorkan organ, sebaiknya perhatikan masalah berat badan. Karena kegemukan jadi penghambat pengambilan organ tubuh.

Dalam sebuah penelitian yang dilaporkan dalam pertemuan National Kidney Foundation, hampir seperempat dari calon pendonor terhambat mendonorkan organnya karena alasan kegemukan.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Dr. Mala Sachdeva beserta rekannya dari North Shore-LIJ Health System Transplant Center, Long Island, New York.

Tetapi meski belum ada ketentuan khusus, para ahli memutuskan untuk tidak melakukan operasi donor organ terhadap pendonor yang memiliki BMI di atas 35, karena berdasarkan operasi sebelumnya menunjukkan hasil yang lebih buruk bagi donor maupun penerima organ.

Peneliti melakukan analisis terhadap 104 orang pendonor ginjal antara tahun 2008 sampai 2011. Hanya 18 persen dari pendonor yang memiliki indeks massa tubuh atau BMI kurang dari 25, sedangkan mayoritas pendonor memiliki masalah dengan kegemukan yaitu sekitar 37 persen memiliki BMI antara 25-30 dan sisanya memiliki BMI di atas 30.

Sekitar 22 persen dari calon pendonor organ memiliki BMI 35 atau lebih. Calon pendonor tersebut kemudian dirujuk ke lembaga konselor agar pasien dapat memodifikasi gaya hidupnya sehingga berat badannya dapat berkurang dan siap untuk mendonorkan organnya.

"Tetapi ternyata hanya sebagian kecil dari pasien yang mampu menurunkan berat badan yang aman untuk menyumbangkan ginjal, yaitu hanya sekitar 13 persen dari calon pendonor yang obesitas," kata Sachdeva seperti dilansir dari medpagetoday, Senin (14/5/2012).

Sekitar 30 persen dari calon pendonor tidak berhasil menurunkan berat badannya. Sebanyak 9 persen menolak untuk melanjutkan operasi pendonoran organ karena alasan medis dan sisanya karena alasan lain.

"Obesitas juga menjadi penghalang bagi seseorang yang ingin membantu orang yang membutuhkan donor organ. Faktor penghalang tersebut perlu segera diidentifikasi dan dipecahkan karena kebutuhan akan transplantasi organ di tiap rumah sakit sangat besar," kata Sachdeva.

Saat ini, ada sekitar 92.000 pasien yang melakukan operasi transplantasi ginjal dan tidak dapat menunggu para pendonor yang bermasalah dengan kegemukan untuk menurunkan berat badannya dulu.
-----

Sarapan Susu Tanpa Lemak Bisa Bantu Turunkan Berat Badan

Banyak orang yang menghindari minum susu karena beranggapan dapat membuat tubuh menjadi lebih gemuk. Padahal minum susu bebas lemak di pagi hari saat sarapan juga bisa membantu menurunkan berat badan.

Penelitian menunjukkan bahwa minum susu bebas lemak untuk sarapan dapat membantu mengurangi kalori saat makan siang dan berkontribusi terhadap penurunan berat badan secara keseluruhan.

Para peneliti mempelajari 34 orang yang kelebihan berat badan, hasilnya menemukan bahwa kelompok yang minum susu bebas lemak saat sarapan dapat mengonsumsi makanan 50 kalori lebih sedikit saat makan siang.

Peneliti menemukan bahwa minum susu bebas lemak memungkinkan seseorang untuk merasa lebih kenyang dan lebih puas, yang menyebabkan konsumsi kalori lebih sedikit saat makan siang. Minum susu bebas lemak di pagi hari mungkin membantu penurunan berat badan, seperti dilansir emaxhealth, Selasa (1/5/2012).

Merasa kenyang setelah makan adalah faktor untuk menurunkan dan pemeliharaan berat badan. Penulis studi berpendapat protein dalam susu mungkin memainkan peran dalam temuan. Memilih makanan yang memberikan rasa kenyang adalah strategi penurunan berat badan yang direkomendasikan.

Mengkonsumsi 50 kalori lebih sedikit setiap hari dapat memberikan kontribusi untuk tujuan penurunan berat badan, namun diet sering gagal karena ngidam kelaparan.

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition ini menunjukkan minum susu bebas lemak di pagi hari mungkin pilihan yang lebih baik daripada minum jus untuk mencegah kelaparan pagi dan mendapatkan nutrisi penting, sehingga penelitian ini penting untuk semua orang yang berusaha menurunkan berat badan.
-----

Orang Gemuk Lebih Sering Lakukan Hubungan Intim Berisiko

Obsesitas banyak menjadi sorotan akhir-akhir ini karena berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan seperti diabetes, sindrom metabolik, penyakit jantung dan kanker.

Sebuah penelitian menemukan bahwa obesitas berakibat buruk bagi kesehatan seksual. Penderita obesitas lebih jarang berhubungan seks dan lebih sering melakukan hubungan seks yang berisiko.

Seorang peneliti di Prancis mempelajari perilaku seksual 12.364 orang pria dan wanita berusia 18 - 69 tahun. Para peserta ada yang memiliki badan normal dan ada yang mengalami obesitas. Kesemua peserta penelitian tinggal di Prancis pada tahun 2006.

Secara keseluruhan, peneliti menemukan bahwa orang gemuk kurang aktif secara seksual. Tetapi ketika melakukan aktivitas seksual, orang gemuk lebih besar kemungkinannya melakukan perilaku seks yang tidak aman.

"Obesitas muncul sebagai salah satu yang wabah yang paling cepat berkembang di zaman modern. Krisis ekonomi saat ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas gizi dan aktivitas fisik sehingga meningkatkan kasus obesitas dan memperbesar ongkos perawatan kesehatan beberapa tahun ke depan," kata Profesor Nathalie Bajos, direktur riset di Institut Nasional de la Sante et de la Recherche Medicale di Paris seperti dilansir WebMD, Selasa (17/4/2012).

Penelitian yang dilakukan Prof Bajos menemukan bahwa:

1. Kehamilan yang tak direncanakan 4 kali lebih banyak dialami wanita lajang yang mengalami obesitas dibandingkan wanita dengan berat badan normal.

2. Wanita obesitas 70% lebih kecil kemungkinannya menggunakan pil KB dan 8 kali lebih mungkin menggunakan metode kontrasepsi yang kurang efektif. Wanita gemuk juga lebih kecil kemungkinannya mendapatkan saran tentang kontrasepsi.

3. Wanita obesitas 5 kali lebih mungkin bertemu pasangan seksualnya di Internet dan memiliki pasangan yang mengalami obesitas juga. Wanita gemuk 30% lebih rendah kemungkinannya memiliki pasangan seksual.

4. Tingginya BMI tidak berkaitan dengan disfungsi seksual pada wanita.

5. Pria gemuk hampir 70% lebih mungkin punya pasangan seksual lebih dari 1 dalam waktu setahun dan 2,5 kali lebih besar mengalami impoten.

6. Pria obesitas yang berusia di bawah 30 tahun lebih mungkin terjangkit infeksi penyakit menular seksual dalam 5 tahun terakhir.

7. Pria gemuk berusia 30 - 49 tahun lebih jarang menggunakan kondom.

Temuan ini didasarkan pada penelitian terhadap dari 3.651 orang wanita dan 2.725 orang laki-laki yang memiliki berat badan normal. Selain itu, penelitian tersebut juga menganalisis 1.010 orang wanita dan 1.488 orang laki-laki yang mengalami kelebihan berat badan, juga menyertakan 411 orang wanita dan 350 orang laki-laki yang mengalami obesitas klinis.

Bajos melihat bahwa wanita lebih sering merasakan adanya tekanan sosial yang besar untuk menjaga berat badannya tetap rendah. Faktor rendahnya harga diri dan kekhawatiran mengenai citra tubuh nampaknya berperan penting dalam keberhasilan penurunan berat badan.

Hubungan antara obesitas dan disfungsi ereksi telah dilaporkan dalam penelitian sebelumnya, tapi hubungan antara obesitas dan kehamilan yang tak diinginkan belum banyak dipelajari.

Penelitian yang dimuat British Medical Journal ini hendak menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa obesitas tidak hanya berbahaya bagi kesehatan, tapi juga merugikan kehidupan seks.
-----

Orang Gemuk Harus Realistis dalam Capai Target Berat Badan

Orang dengan kelebihan berat badan akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal. Tapi dokter gizi menyatakan bahwa orang gemuk harus realistis mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai hasil tersebut.

"Orang gemuk harus realistis, karena butuh waktu untuk mencapai hasil yang diinginkan, ketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan," ujar dr Samoel Oetoro, MS, SpGK dalam acara konferensi pers Seminar dan Kursus Obesitas Ketujuh di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (4/5/2012).

dr Samoel menuturkan karena jika orang sedang diet dan hasil yang didapat berat badannya turun tidak banyak atau tidak mencapai target, itu bisa bikin semangatnya kurang, padahal yang penting dalam menurunkan berat badan adalah menjaga motivasi dan semangat.

Untuk menurunkan berat badan ada cara lurus dan cara sesat yang digunakan. Cara lurus yang dimaksud disini adalah menurunkan berat badan secara sehat sehingga tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya.

Tapi sayangnya banyak pula orang yang menggunakan cara-cara sesat untuk menurunkan berat badannya seperti mengonsumsi diuretik sehingga sering buang air kecil, minum obat yang bikin buang air besar terus, bahkan ada yang seperti melakban mulut karena tidak makan apa-apa.

"Ada yang dalam sehari hanya boleh minum air kelapa 5 kali atau makan apel 7 buah sehari, itu bahaya yang ada nanti pasiennya dirawat di rumah sakit. Cara yang benar adalah berdasarkan individual pasien, karena itu penanganan setiap pasien spesifik atau berbeda-beda," ungkapnya.

dr Samoel menyayangkan obat-obatan di pasaran atau klinik sesat yang banyak menggunakan obat bukan untuk pelangsingan, karena obat ini bikin orang pengen pipis terus dan bahkan ada yang ditambahkan kafein dosis tinggi serta amfetamin yang membuat orang tidak capek meski ia tidak makan.

"Yang benar adalah obat fat blocker sehingga lemak yang masuk diblock sekitar 30 persen. Tapi yang paling utama adalah mengubah pola hidup jadi semangat dan motivasinya tetap terjaga," ujar dr Samoel dari Departemen Ilmu Gizi FKUI.

Saat ini jumlah orang dengan kelebihan berat badan dan obesitas tengah meningkat. Berdasarkan data dari Riskesdas 2010 diketahui orang dewasa berusia lebih dari 18 tahun yang kelebihan berat badan sekitar 21,7 persen, hal ini meningkat dibanding hasil Riskesdas 2007 yang berada sekitar 19,1 persen.

"Jika 21,7 persen berarti ada sekitar 40 juta orang yang kelebihan berat badan, karenanya pasien sebaiknya dilatih agar memiliki berat badan ideal dengan cara yang sehat. Orang obesitas mempunya problem spesifik karena itu kasih taunya juga harus secara individual," ujar Dr Inge Permadhi, MS, SpGK.
-----

Tempat Kerja Bisa Bikin Diet Gagal

Seringkali rekan kerja di kantor menawarkan makanan-makanan manis seperti kue dan coklat yang akan mengacaukan diet Anda. Tentunya Anda tidak akan dapat menolak tawaran tersebut setiap hari dan kelamaan akan tergoda untuk mencicipinya.

Berikut 5 hal yang perlu diperhatikan agar makanan-makanan di tempat kerja tidak membuat diet Anda gagal seperti dikutip dari thedailymeal, Rabu (4/4/2012) antara lain:


1. Pilihlah cemilan sehat di kantor
Anda tidak perlu menolak semua cemilan yang ditawarkan rekan kerja Anda. Pilihlah cemilan yang sehat seperti buah-buahan.

Jika tempat kerja Anda memiliki kulkas, lebih baik mengisinya dengan makanan ringan yang sehat seperti yoghurt non-fat, telur rebus, jeruk, atau buah-buahan segar lainnya.

2. Sarapan pagi
Sarapan pagi dapat membantu Anda menghindari ngemil di tempat kerja. Cara terbaik untuk memulai hari adalah dengan sarapan makanan yang kaya serat dan protein serta rendah lemak seperti roti gandum, oatmeal, atau roti bakar dengan selai kacang.

3. Menyediakan botol minum di meja kerja
Minum cukup air tidak hanya membantu menjaga tubuh Anda dari dehidrasi sepanjang hari tetapi juga dapat mencegah kelaparan. Banyak orang yang dehidrasi dan lapar akan makan lebih banyak dari porsi yang biasa.

Anda perlu memiliki botol minum di dekat meja kerja. Coba sesekali isi botol minum Anda dengan jus lemon segar yang kaya akan vitamin C.

4. Pilih makanan yang tepat ketika makan siang
Sangat penting untuk makan makanan yang akan membuat Anda merasa kenyang pada jam makan siang.

Hindari makanan yang tinggi gula dan lemak, dan sebagai gantinya pilihlah makanan seperti kacang atau kentang yang akan memenuhi kebutuhan gizi dan membantu mencegah Anda mengemil makanan yang tidak sehat.

5. Bawa makan siang dari rumah
Ketika tidak ada waktu untuk makan siang keluar, kue-kue di kantor menjadi alternatif yang buruk untuk mengganjal perut. Oleh karena itu, Anda dapat membawa bekal makan siang yang sehat dan lezat dari rumah yang akan memudahkan diet Anda.
-----

Liur Kadal 'Monster Gila' Bisa Obati Kecanduan Makan

Banyak orang susah mengontrol nafsu makan karena sudah kecanduan, terutama terhadap makanan manis termasuk gula dan cekelat. Kini para ahli menemukan obat untuk mengatasinya, yang dibuat dari liur kadal beracun bernama Monster Gila.

Kadal beracun yang dijuluki Monster Gila (Heloderma suspectum) ini merupakan spesies kadal terbesar di benua Amerika. Ukurannya bisa mencapai 60 cm, namun pergerakannya lambat sehingga sering diburu dan lagipula bisanya tidak terlalu berbahaya bagi manusia.

Baru-baru ini, para ilmuwan dari University of Gothenberg mengujikan obat baru untuk mengatasi kecanduan makan. Obat yang diberi nama Exetadine mengandung senyawa sintetis, dengan struktur yang sangat mirip dengan senyawa exedine-4 yang terkandung dalam liur Monster Gila.

Meski baru diujikan pada tikus, obat ini menunjukkan hasil yang sangat memuaskan karena tikus-tikus uji mengalami penurunan nafsu makan yang cukup signifikan. Sebelumnya tikus-tikus itu mengalami kecanduan makan makanan manis karena mengalami gangguan metabolisme.

Pada manusia, gangguan yang sama juga dialami oleh sebagian pengidap diabetes mellitus yang jadi banyak makan atau polifagia. Jenis makanan yang memicu kecanduan umumnya memiliki rasa manis, terutama makanan bergula dan juga berbagai jenis cokelat.

Selain karena gangguan metabolisme, kecanduan makan juga sering dipicu oleh perilaku compulsive overeating atau dalam keseharian sering diistilahkan dengan 'lapar mata'. Artinya seseorang ingin makan bukan karena sedang lapar, melainkan hanya karena tertarik untuk menyantap hidangan tertentu.

"Kecanduan makanan dan kecanduan alkohol melibatkan area yang sama di otak. Karena itu kami sangat tertarik untuk mengujikan obat baru yang mengandung tiruan exedin-4 ini untuk mengatasi kecanduan alkohol," kata sang peneliti, Prof Karolina Skibicka yang mempublikasikan penelitian ini di Journal of Neuroscience, seperti dikutip dari Science Daily, Rabu (16/5/2012).
-----

Yang Bisa Dimakan Sebelum Tidur Tapi Tak Bikin Gemuk

Jakarta, Tidak sedikit orang yang suka makan di malam hari atau menjelang tidur. Tapi banyak yang takut jika angka di timbangannya terus naik. Tak perlu khawatir, ada beberapa makanan yang tetap sehat di makan dan tidak menaikkan berat badan meski dinikmati menjelang tidur.

Makan di malam hari bisa menaikkan berat badan bila mengandung beban kalori yang berlebihan. Untungnya, beberapa makanan bergizi bisa ramah dengan berat badan dan dapat menjadi makanan ringan yang bisa dikonsumsi sebelum tidur.

Berikut beberapa makanan yang bisa dimakan sebelum tidur dan tidak bikin gemuk, seperti dilansir livestrong, Kamis (10/5/2012):

1. Buah-buahan
Buah-buahan memberikan jumlah serat berharga, yang mempromosikan pengendalian nafsu makan. Karena mengandung banyak air, buah-buahan segar memungkinkan Anda untuk mendapatkan rasa kenyang dengan kalori yang lebih sedikit.

Contoh buah yang bisa dimakan sebelum makan adalah pisang. Pisang memberikan manfaat tambahan triptofan, yaitu asam amino yang diyakini untuk mempromosikan ketenangan. Buah-buahan lain contohnya adalah yang sangat tinggi serat dan air seperti buah berry, jeruk, pir dan apel.

2. Sayuran
Sayuran juga menyediakan air dan serat yang cukup. Sayuran yang sangat tinggi serat contohnya kacang-kacangan, lentil, kacang polong, brokoli dan sayuran hijau gelap. Kentang dan kedelai mengandung jumlah berharga dari triptofan yang membuat saraf tenang.

3. Susu rendah lemak
Produk susu rendah lemak seperti susu skim dan yogurt rendah lemak merupakan sumber prorein bergizi dengan indeks glikemik rendah. Menurunkan kadar glikemik dapat membantu Anda menurunkan berat badan dengan menunda isyarat lapar.

4. Gandum utuh
Gandum utuh menyediakan indeks glikemik rendah dan kaya serat sehingga menjadi pilihan makanan ringan yang tepat untuk malam hari. Misalnya, ganti chocolate chip dengan kue gandum atau kue-kue muffin gandum. Makanan bergizi makanan lain misalnya beras merah, roti gandum dan popcorn tanpa bahan tambahan (garam atau gula).
-----

7 Jenis Penyakit yang Dapat Menyebabkan Kegemukan

Kegemukan bukan hanya dipicu oleh banyak makan dan kurang berolahraga. Terkadang, kegemukan bisa disebabkan karena beberapa kondisi kesehatan seperti ketidakseimbangan hormon dan kekurangan vitamin.

"Banyak orang berpikir kenaikan berat badan disebabkan oleh gaya hidup. Tetapi ada kalanya tubuh bereaksi terhadap faktor yang tidak bisa dikendalikan. Apakah itu hormon, efek samping obat atau sesuatu yang lain. Ada faktor yang kadang-kadang membutuhkan bantuan dokter," kata Robert J. Hedaya, MD, profesor klinis psikiatri di Georgetown University Medical Center.

Seperti dilansir prevention.com, Senin (14/5/2012) berikut adalah 7 penyakit yang memicu kegemukan:

1. Depresi
Ada bukti bahwa depresi berkorelasi dengan kenaikan berat badan. Sebuah penelitian tahun 2010 yang dipublikasikan di American Journal of Public Health menemukan bahwa orang yang merasa sedih dan kesepian lebih cepat naik berat badannya daripada yang tidak sedih.

Apalagi, obat anti depresan dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Jadi jika merasa depersi dan meminum pil ini, jangan kaget jika mengalami kenaikan berat badan antara 5 - 15 kg dengan akumulasi bertahap terus selama bertahun-tahun.

2. Efek samping obat
Ada beberapa obat yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan seperti pil KB, kelebihan hormon karena terapi hormon, steroid, beta-blocker untuk penyakit jantung dan tekanan darah, obat anti kejang, obat kanker payudara seperti tamoxifen, beberapa pengobatan untuk rheumatoid arthritis, bahkan obat migrain dan nyeri ulu hati.

3. Pencernaan lambat
Gangguan pencernaan seperti lambat buang air besar juga dapat menambah berat badan. Idealnya, buang air besar dilakukan satu jam setelah makan. Buang air besar sekali atau dua kali sehari masih dalam kisaran yang sehat. Tapi jika buang air besar tidak begitu teratur, dehidrasi dan kurang serat dalam usus juga bisa membuat cepat gemuk.

4. Kurang nutrisi
Kekurangan vitamin D, magnesium atau zat besi dapat mengganggu sistem kekebalan, kurang bertenaga atau mengganggu metabolisme. Akibatnya, terjadi kenaikan berat badan. Kekurangan energi dapat dibantu dengan mengkonsumsi kafein, permen dan karbohidrat sederhana.

5. Penuaan
Ini adalah kondisi yang tidak dapat dihindari. Seiring pertambahan usia, metabolisme tubuh melambat. Lansia membakar kalori lebih sedikit dibandingkan saat masih muda. Jadi, lansia perlu banyak berolahraga dan menjaga nutrisi agar metabolismenya berjalan. Beberapa penelitian menunjukkan olahraga lebih penting dibandingkan dengan makanan untuk mengontrol berat badan.

6. Mengidap Fasciitis Plantar.
Penyakit otot dan tulang seperti plantar fasciitis, osteoarthritis dan nyeri lutut atau pinggul dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak disengaja. Plantar fasciitis akan membuat penderitanya tidak banyak beraktivitas sehingga menyebabkan kenaikan berat badan.

7. Mengidap Sindrom Cushing.
Berat badan disertai dengan tekanan darah tinggi, osteoporosis, perubahan warna dan kualitas kulit seperti berkas ungu atau keperakan pada perut dan kemerahan pipi bisa menjadi tanda bahwa tubuh tidak memproses nutrisi dengan tepat atau disebut sindrom Cushing.

Sindrom ini hanya menyerang sekitar 15 juta orang dewasa setiap tahun. Salah satu tanda-tandanya adalah lemak yang banyak berkumpul di bagian tengah tubuh sehingga lengan dan kaki terlihat lebih ramping.
-----

Gemuk dan Merokok Sama-sama Boros di Ongkos Berobat

Cara paling sehat dan mudah untuk berhemat adalah dengan menjaga berat badan serta menghindari rokok. Menurut penelitian, biaya perawatan kesehatan cenderung lebih tingi ketika seseorang merokok atau mengalami kelebihan berat badan.

Kecenderungan ini teramati dalam sebuah penelitian di Mayo Clinic, Amerika Serikat. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati laporan klaim asuransi kesehatan dari sekitar 30.000 karyawan di klinik tersebut selama periode tahun 2001 hingga 2007.

Hasil analisis menunjukkan bahwa karyawan yang mengalami obesitas cenderung menghabiskan dana lebih besar untuk perawatan kesehatan dibanding karyawan yang memiliki berat badan normal. Selisihnya bisa mencapai US$ 5.500 atau sekitar Rp 50 juta/tahun.

Hal yang sama juga dialami oleh karyawan yang punya kebiasaan merokok. Biaya untuk berobat dan melakukan perawatan kesehatan yang tercatat oleh di perusahaan ini cenderung lebih tinggi daripada karyawan lain yang tidak memiliki kebiasaan merokok.

Dibanding kebiasaan merokok yang memang sejak lama dikaitkan dengan risiko penyakit kronis, dampak negatif dari kegemukan kadang kurang kelihatan. Namun hal itu dinilai bisa membuatnya terabaikan padahal faktanya sama-sama punya risiko negatif bagi kesehatan.

"Obesitas adalah faktor risiko untuk mengalami berbagai jenis penyakit kronis," kata James Moriarty dari Mayo Clinic di Rochester, salah seorang ilmuwan yang melakukan penelitian tersebut, seperti dikutip dari Health24, Selasa (17/4/2012).

Hasil penelitian ini menyiratkan bahwa salah satu cara untuk memangkas pengeluaran khususnya terkait biaya perawatan kesehatan adalah dengan mengubah gaya hidup. Kegemukan bisa dilawan dengan meningkatkan aktivitas fisik dan olahraga, sedangkan merokok tidak ada pilihan selain harus berhenti.
-----

Anak Gemuk Jangan Disuruh Diet, Tapi Ubah Pola Makannya

Orangtua kadang tidak menganggap serius tanda-tanda kegemukan pada anaknya. Tapi begitu tahu anaknya sering di-bully karena gemuk, barulah orangtua sadar anaknya harus diet. Tapi sebenarnya anak gemuk tak perlu diet tapi cukup ubah pola makannya.

Anak-anak yang mengalami obesitas cenderung dikucilkan dari pergaulan dan dibully oleh anak-anak lain. Anak-anak obesitas juga lebih rentan sakit dan meurunkan prestasi belajarnya di sekolah.

Anak-anak yang mengalami obesitas lebih jarang berjalan karena pahanya bergesekan ketika berjalan sehingga merasa sakit. Hal ini membuat anak-anak ini makin jarang bergerak dan malas berolahraga.

"Anak-anak yang gemuk di Indonesia kebanyakan adalah anak-anak mampu yang orang tuanya sibuk. Apalagi saat ini makanan junk food bisa dipesan antar. Tanpa adanya kontrol dari orang tua, anak-anak ini makin besar risikonya menjadi obesitas," kata Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), dokter spesialis anak Bagian Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Penyakit Anak FKUI/RSCM Jakarta dalam acara Nutritalk Sari Husada di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (9/3/2012).

Menurut penelitian yang pernah dilakukan dr Damayanti di tahun 2006, sebanyak 15.3% siswa SD di seluruh Jakarta mengalami obesitas. Penelitiannya di tahun 2011 mengungkapkan 22,5% siswa SMA di Jakarta mengalami obesitas. Dari penelitian ini dia juga menemukan bahwa anak-anak obesitas 72% asupan makanannya adalah lemak dan hanya 10% di antaranya yang rutin berolahraga.

Dr Damayanti juga menuturkan bahwa obesitas meningkatkan risiko penyumbatan saluran napas ketika tidur (sleep apnea) sebesar 38,25%, risiko gangguan metabolisme 34%, dan risiko peningkatan kolesterol sebanyak 33%. Untungnya, risiko ini masih sangat bisa diatasi pada anak-anak dengan banyak berolahraga dan mengubah pola makan.

"Untuk mengatasi obesitas pada anak-anak, jangan suruh mereka berdiet sebab diet bagi anak-anak adalah siksaan. Begitu jadwal diet selesai, anak-anak akan melampiaskan lagi keinginan makannya dan kembali gemuk. Yang perlu dilakukan hanyalah sederhana, yaitu mengubah pola makan," kata dr Damayanti.

Mengubah pola makan yang dimaksud dr Damayanti adalah anak-anak tetap boleh makan banyak namun didisiplinkan untuk makan 3 kali sehari, tidak boleh lebih. Junk food dan minuman ringan harus dihindari. Anak-anak harus memperbanyak makan sayur, buah-buahan dan air putih. Namun yang paling penting, kontrol dari orangtua dan keinginan anak sendiri untuk mengatasi obesitasnya adalah faktor yang paling penting.

Obesitas banyak disebabkan karena gaya hidup orangtua yang tak sehat dan ditiru oleh anak-anak. Sebanyak 90% obesitas dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yaitu karena pola hidup tak sehat.

Penelitian tahun 1999 menemukan bahwa anak-anak 40% berisiko obesitas jika salah satu orang tuanya obesitas. Dan anak-anak berisiko obesitas 70% jika kedua orang tuanya mengalami obesitas.
-----

Senyawa Mirip Ganja Jadi Kunci Keberhasilan Diet

Tidak semua orang berhasil menjalankan diet untuk menurunkan berat badan, sebagian tetap gemuk meski sudah mengurangi makan. Menurut penelitian, sukses tidaknya program diet ditentukan oleh sebuah senyawa mirip ganja yang ada di otak.

Senyawa mirip ganja yang dimaksud dalah endocannabinoid 2-AG, yang strukturnya hampir mirip dengan kandungan alamiah daun ganja. Bedanya, senyawa yang namanya sering disingkat 2-AG saja ini diproduksi sendiri oleh seluruh spesies mamalia termasuk manusia.

Di dalam tubuh, senyawa ini diyakini sangat berperan dalam proses metabolisme. Keseimbangan kadar senyawa ini di dalam tubuh menentukan seberapa efisien energi yang bisa dihasilkan, jika dibandingkan dengan jumlah kalori dari makanan yang dikonsumsi.

Dugaan ini terbukti dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Prof Daniele Piomelli dari University of California di Irvine. Dalam percobaan tersebut, Prof Piomelli melakukan rekayasa genetika pada beberapa ekor tikus agar tidak memproduksi 2-AG secara berlebihan.

Pembatasan produksi 2-AG di dalam tubuh para tikus membuat proses metabolisme berjalan sangat efisien. Meski hanya diberi makan sedikit, energi yang dihasilkan cukup besar sehingga tikus-tikus ini terhindar dari risiko kelebihan berat badan.

Meski demikian, Prof Piomelli mengatakan dengan adanya temuan ini tidak berarti bahwa para pemalas tidak perlu lagi berolahraga. Pada manusia, rekayasa genetika untuk mengubah sistem metabolisme seperti halnya pada tikus-tikus tersebut tentu tidak mudah untuk dilakukan.

"Untuk menghasilkan efek serupa, manusia butuh obat-obatan untuk memblok produksi 2-AG di otak dan itu belum bisa kita lakukan dalam waktu dekat. Satu-satunya cara adalah melatih otak agar tidak terlalu banyak memproduksi 2-AG, misalnya dengan tetap berolahraga," kata Prof Piomelli seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (6/3/2012).
-----

Orang Cepat Gemuk Kalau Tiap Pagi Dibangunkan Suara Alarm

Dalam kehidupan moderen yang serba terburu-buru, rasanya jarang ada orang yang bisa bangun pagi tanpa alarm. Padahal kebiasaan ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan, yakni membuat seseorang cepat gemuk karena mengalami jet lag sosial.

Menurut para peneliti dari University of Munich, bunyi alarm ponsel maupun jam beker di pagi hari sangat mengganggu jam biologis tubuh. Secara alami tubuh memiliki siklus rasa mengantuk, yang jika terganggu maka sangat mempengaruhi kesehatan secara umum.

Istilah 'jet lag sosial' merujuk pada gangguan terhadap jam biologis, seperti yang dialami pada jet lag sesungguhnya yakni setelah terbang melintasi zona waktu yang berbeda. Bedanya, jet lag sosial dipicu oleh perbedaan ritme pada hari kerja, dengan akhir pekan yang bebas dari suara alarm.

Alarm sering dipakai untuk membangunkan seseorang terutama pada hari kerja, karena jadwal kerja atau aktivitas lain yang mengharuskannya bangun pagi. Seharusnya kalau memang sudah tidak membutuhkan tidur lebih lama lagi, seseorang akan bangun dengan sendirinya meski tanpa alarm.

"Bangun dengan alarm adalah hal baru dalam hidup kita. Ini tandanya kita tidak punya cukup waktu untuk tidur dan itulah alasannya kita merasa lelah," kata salah seorang peneliti, Prof Till Roenneberg seperti dikutip dari Sciencedaily, Jumat (11/5/2012).

Penelitian yang dilakukan Prof Roenneberg baru-bari ini menunjukkan, jam biologis yang terganggu oleh suara alarm bisa meningkatkan risiko kegemukan. Temuan ini sesuai dengan hasil penelitian lain sebelumnya, yang mengatakan bahwa kurang tidur bikin seseorang lebih cepat gemuk.

Bukan hanya memicu kegemukan, jet lag sosial yang dipicu suara alarm juga membuat seseorang cenderung cepat letih sepanjang hari. Kondisi ini sekaligus juga meningkatkan kecenderungan yang tidak sehat, seperti minum kopi terlalu banyak, minum alkohol dan merokok.
-----

Obat-obatan yang Punya Efek Samping Bikin Gemuk

Obesitas atau kegemukan sepertinya sudah menjadi epidemi di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Selain dipengaruhi karena pola makan modern yang tak sehat, obat-obatan yang dikonsumsi juga berperan untuk meningkatkan berat badan.

Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk mengobati obesitas terkait kondisi seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan depresi ternyata juga dapat meningkatkan berat badan itu sendiri.

"Pasien dan dokter harus lebih menyadari hal itu. Ini sedang diakui mengarah pada masalah obesitas," jelas Lawrence Cheskin, MD, direktur Johns Hopkins Weight Management Center di Baltimore, seperti dilansir Foxnews, Kamis (10/5/2012).

Tapi meski ada beberapa obat-obatan yang memiliki efek samping menaikkan berat badan, pasien tidak boleh langsung berhenti mengonsumsinya karena dalam beberapa kasus obat-obatan ini bisa menyelamatkan nyawa Anda.

Berikut beberapa obat-obatan yang memiliki efek samping menaikkan berat badan, seperti dilansir Foxnews:

1. Paxil (paroxetine)
Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) umumnya tidak menyebabkan kenaikan berat badan karena meningkatkan serotonin antidepresan, yang membantu Anda merasa kenyang. Tapi Paxil adalah pengecualian.

"Paxil adalah salah satu obat terbaik untuk mengatasi kecemasan, tetapi jika Anda mengalami kenaikan berat badan saat mengonsumsinya, Anda bisa bicara dengan dokter untuk beralih ke SSRI yang netral seperti Prozac atau Zoloft," kata Louis Aronne, MD, direktur Program Pengendalian Berat Badan Komprehensif di New York-Presbyterian/Weill Cornell Medical Center, New York City.

2. Depakote (asam valproat)
Depakote digunakan untuk mengobati gangguan bipolar dan kejang, dan mencegah migrain.

Sebuah studi tahun 2007 pada pasien epilepsi menemukan bahwa 44 persen wanita dan 24 persen pria naik 11 pon atau lebih saat mengonsumsi Depakote selama sekitar satu tahun.

Obat ini mempengaruhi protein yang terlibat dalam nafsu makan dan metabolisme, meskipun tidak jelas mengapa tampaknya lebih mempengaruhi perempuan ketimbang laki-laki.

3. Prozac (fluoxetine)
Meskipun Prozac, SSRI, umumnya dikaitkan dengan penurunan berat badan, tetapi dapat memiliki efek sebaliknya dalam jangka panjang.

4. Remeron (mirtazapine)
Remeron adalah obat antidepresi yang meningkatkan serotonin dan norepinefrin, yang terkait dengan penurunan berat badan. Namun aktivitas antihistamin obat ini mungkin juga bisa menyebabkan angka timbangan Anda naik.

5. Zyprexa (olanzapine)
Antipsikotik atipikal, seperti Zyprexa dan Clozaril (clozapine), dapat menaikkan berat badan. Sebuah studi tahun 2005 menemukan bahwa 30 persen orang yang mengonsumsi Zyprexa naik berat badan 7 persen atau lebih dalam waktu 18 bulan.

Obat ini, yang digunakan untuk skizofrenia dan gangguan bipolar, memiliki aktivitas antihistamin kuat dan menghambat serotonin, yang dapat memicu kenaikan berat badan.

6. Deltasone (prednison)
Kortikosteroid oral, seperti Deltasone, lebih kuat dari bentuk inhalasi dan membawa risiko yang lebih tinggi pada kenaikan berat badan, terutama dengan penggunaan jangka panjang.

7. Thorazine (chlorpromazine)
Ketika Thorazine antipsikotik generasi pertama memasuki pasar pada tahun 1954, jelas bahwa hal itu bisa menyebabkan kenaikan berat badan. "Thorazine, bersama dengan Mellaril (thioridazine), mempunyai aktivitas antihistamin, yang meningkatkan nafsu makan dan penenang," kata James Roerig, profesor klinis ilmu saraf di University of North Dakota School of Medicine and Health Sciences di Fargo.

8. Elavil, Endep, Vanatrip (amitriptyline)
Antidepresan trisiklik (TCA) seperti amitriptyline, terkait dengan kenaikan berat badan lebih dari antidepresan atau obat-obatan migren. TCA mempengaruhi neurotransmitter yang terlibat dalam energi dan nafsu makan, seperti serotonin, dopamin, dan asetilkolin, tetapi aktivitas antihistamin obat ini mungkin adalah alasan untuk perubahan berat badan.

9. Allegra (fexofenadine dan pseudoephedrine)
Aktivitas antihistamin, bagaimanapun adalah penting untuk efektivitas obat alergi. Sebuah studi tahun 2010 menemukan bahwa orang yang memakai antihistamin resep seperti Allegra dan Zyrtec 55 persen lebih mungkin untuk kelebihan berat badan daripada yang tidak minum obat tersebut.

10. Diabinese, Insulase (chlorpropamide)
Beberapa obat diabetes tipe 2 menyebabkan penurunan berat badan, namun beberapa lainnya memiliki efek sebaliknya. Abat-obatan Sulfonilurea seperti Diabinese dan Insulase, dan lainnya seperti Actos dan Prandin, merangsang produksi atau kegiatan insulin, yang menurunkan gula darah dan dapat meningkatkan nafsu makan.

11. Insulin
Insulin cenderung meningkatkan kenaikan berat badan. Tapi jenis tertentu, seperti insulin Levemir, memiliki efek yang kurang ekstrem. Satu studi menemukan bahwa orang memperoleh hampir 5 kg untuk rata-rata selama tiga tahun pertama menggunakan insulin. Sekitar setengah dari kenaikan berat badan ini diduga terjadi dalam tiga bulan pertama.

12. Tenormin (atenolol)
Beta-blocker adalah salah satu obat untuk tekanan darah tinggi, tapi yang lebih tua, seperti Tenormin, Lopressor (metoprolol), dan Inderal (propranolol), dapat memperlebar pinggang.

13. Pil KB
Pil KB sering disalahkan untuk kenaikan berat badan, tetapi sebagian besar tidak beralasan. Hanya depot medroxyprogesterone acetate (DMPA) yang telah konsisten dikaitkan dengan penambahan berat badan.

Penelitian menunjukkan bahwa wanita muda yang awalnya sudah obesitas paling rentan terhadap kenaikan berat badan pada saat mengonsumsi DMPA.
-----

Kenapa Mantan Atlet Banyak yang Jadi Gemuk?

Hampir sebagian besar atlet memiliki bentuk tubuh yang bagus dan ideal, tapi sayangnya banyak atlet jika sudah berhenti memiliki berat badan berlebih. Kenapa mantan atlet cenderung banyak yang gemuk?

"Dulu atlet makan banyak tapi aktivitasnya juga banyak, tapi setelah veteran makannya tetap banyak tapi aktivitasnya berkurang," ujar dr Inge Permadhi, MS, SpGK dalam acara konferensi pers Seminar dan Kursus Obesitas Ketujuh di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (4/5/2012).

Hal senada juga diungkapkan oleh dr Samoel Oetoro, MS, SpGK bahwa saat masih menjadi atlet sel-sel di tubuhnya aktif tapi setelah veteran aktivitas sel menjadi berkurang atau rendah.

"Dulu metabolismenya tinggi sekarang rendah, serta makan banyak tapi aktivitasnya sudah nggak sebanyak dulu, karenanya ia rentan menjadi gemuk," ujar dr Samoel yang juga dari Departemen Ilmu Gizi FKUI.

dr Samoel menuturkan beberapa atlet kadang harus atau sengaja menambahkan berat badannya supaya bisa masuk ke kelas-kelas tertentu seperti petinju agar bisa masuk kelas berat, atau atlet sumo yang sengaja dibuat gemuk.

"Pesumo itu sudah dibentuk dari kecil diberikan makanan dengan fat tinggi agar terjadi tumpukan lemak dan tumbuh seperti raksasa, tapi ini menimbulkan risiko bagi dia sebagai atlet," ungkapnya.

dr Samoel menjelaskan kondisi ini membuat perantara peradangan (mediator inflamation) sudah berjalan dan itu bisa merusak. Bahkan ada studi yang menunjukkan pesumo itu umurnya tidak panjang.

Diketahui ada 2 jenis lemak yaitu lemak yang berada di bawah kulit misalnya terlihat di lengan dan pinggung, serta lemak perut yang menutupi usus dan hati. Diantara kedua jenis lemak ini yang berbahaya adalah lemak di perut karena ia akan mengeluarkan zat perantara peradangan pembuluh darah.

"Pembuluh darah lama-lama menebal karena kolesterol yang lewat akan lengket (menempel) dan menyebabkan penyumbatan yang bisa berakibat tekanan darah tinggi, diabetes, berhenti napas saat tidur karena jalan napasnya ketutup atau hatinya tertutup lemak (fatty liver)," ujar dr Samoel.

Untuk itu agar tidak gemuk setelah berhenti jadi atlet harus mengurangi porsi makan yang dikonsumsinya karena aktivitasnya berkurang, serta tetap melakukan olahraga secara teratur.
-----

Cara Menghitung Seberapa Gemuk atau Kurus Tubuh Anda


Saat ingin menurunkan berat badan, seseorang diharuskan untuk menghitung berapa indeks massa tubuhnya (BMI). Karena hasil dari perhitungan BMI ini bisa menentukan apakah seseorang sudah ideal, kurus atau termasuk kelebihan berat badan.

Cara untuk menghitung nilai indeks massa tubuh berdasarkan nilai tinggi dan berat badan yang dimiliki. Perhitungan ini berlaku sama untuk laki-laki maupun perempuan.

Seperti dikutip dari BBC, cara menghitungnya dengan mengkuadratkan nilai tinggi badan (dalam satuan meter). Lalu nilai berat badan (dalam satuan kilogram) dibagi hasil kudrat dari tinggi badan tersebut.

Misalnya seseorang perempuan berusia 30 tahun memiliki berat badan 60 kg dan tinggi badan 160 cm (1,6 meter). Cara menghitungnya pertama kali mengkuadratkan tinggi badan 1,6 X 1,6 hasilnya 2,56. Lalu nilai berat badan dibagi hasil perkalian dari tinggi badan yaitu 60 : 2,56 hasilnya 23,43. Berarti nilai BMI dari perempuan tersebut sebesar 23,43 dan masuk ke dalam kelompok ideal/normal.

Kategori BMI adalah:
1. Nilai indeks massa tubuh kurang dari 19 tergolong ke dalam kelompok kurus.
2. Nilai 19-24,9 masuk ke dalam kelompok ideal.
3. Nilai antara 25-29,9 masuk kelompok kelebihan berat badan (gemuk).
4. Jika mencapai nilai 30 atau lebih maka orang tersebut masuk ke dalam kelompok obesitas.

Risiko kesehatan akan bertambah besar jika seseorang memiliki nilai indeks massa tubuh 25 atau lebih. Karena akan semakin besar kemungkinan orang tersebut terkena penyakit jika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat dan berolahraga.
Risiko kesehatan yang kemungkinan dimiliki oleh orang dengan nilai indeks massa tubuh di atas 25 adalah tekanan darah tinggi, kolesterol, penyakit jantung, stroke, diabetes, arthritis, sakit pinggang atau juga berhubungan dengan psikologisnya.

Bagi yang memiliki indeks massa tubuh besar tidak ada salahnya untuk mulai melakukan diet yang sehatdengan mengurangi asupan kalori, perbanyak aktivitas fisik, menerapkan pola hidup yang sehat atau dengan berkonsultasi ke dokter gizi.

BMI merupakan salah satu alat untuk mengetahui apakah seseorang perlu melakukan diet atau tidak, tapi BMI ini hanya untuk melihat kelebihan berat badan akibat lemak. Jadi untuk orang yang berotot, atletis, ibu hamil, pembacaan BMI mungkin akan kurang tepat.

-----
Sumber
anak-gemuk.jpg (400×252)

Poskan Komentar

Blogger